AISI Tolak Mentah-mentah Beri Dua Helm

26 11 2009

Hari ini di milis RSA ane membaca sebuah berita dari DetikOto:

Syubhan Akib
Jakarta – Rencana pemerintah yang meminta setiap pabrikan motor agar memberikan dua helm bagi setiap pembeli motor ternyata ditentang asosiasi produsen motor.

Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) yang menjadi payung hampir semua merek motor yang beredar di indonesia ternyata tidak setuju pada wacana ini.

AISI berpendapat pemberian helm bukanlah solusi cerdas mengurangi angka kecelakaan di indonesia.

“Karena masalah fundamental kita adalah masalah disiplin di jalan raya,” ungkap Ketua Umum AISI Gunadi Sindhuwinata, akhir pekan lalu kepada detikOto.

Disiplin berkendara itu menurut Gunadi meliputi banyak hal seperti menaati setiap rambu lalu lintas.

“Bila disiplin ini tidak dijalankan, percuma kita kasih helm lebih,” pungkasnya.

Karena lanjut gunadi memberikan dua helm ke pengendara akan percuma bila kesadaran ini belum ditegakan sempurna.

“Percuma, kita mau kasih 10 helm pun kalau kesadaran disiplinnya belum ada, tentu tidak akan digunakan. Jadi lebih baik itu dulu yang kita benahi karena itu lebih fundamental,” paparnya.

Lagi pula helm menurut Gunadi bukanlah perlengkapan sebuah motor, tapi lebih merupakan kelengkapan seorang pengendara.

Namun bila pemerintah memang memaksa setiap pabrikan motor untuk memberikan dua helm pada setiap konsumen, Gunadi menuturkan produsen motor akan menuruti.

“Ya bila memang sudah perintah, mau bagaimana lagi. Tapi semoga saja pemerintah dapat lebih bijak,” tandasnya. ( syu / ddn )

pendapat ane:

ane 3x beli Bajaj.

1. 2006 : beli P180 dapet helm imut plus jaket kalo dipakai trus ane ngaca langsung keliatan kaya Budi Anduk.  Jaketnya kekecilan (ini bukan salah dealer…hehehe).
2. 2008 : beli P200 dapat helm full face plus jaket. helm oke tapi looks cheap..helm ane kasihin tukang ojek, jaket lagi2 kekecilan…ane kasih tukang ojek juga.
3. 2009 : beli P180 dapat helm full face (dari leasing) bukan dealer. dealer cuma kasih jaket cupu. engga banget deh.

flashback lagi..2005 ane beli Yamaha Scorpio…dapat 2 helm dan 1 jaket…lumayan tuh helm dan jaketnya keren.

Selanjutnya…kawan2 yang beli Bajaj…TIDAK LAGI DAPAT HELM DAN JAKET. Entah apa maksud kebijakan PT. Bajaj Auto Indonesia (PT.BAI) ini.
Padahal Bajaj tidak termasuk anggota AISI (Asosiasi Industri Soang dan Itik ???). mungkin karena Bajaj tidak produksi soang dan itik ya..huahahahahaha..Atau karena takut rugi kalau kasih helm dan jaket ke konsumen?

kalau AISI mengatakan gak setuju kasih helm dengan alasan “kesadaran pengendara”, maka buat kegiatan yang berguna dong untuk peningkatan kesadaran penggunaan helm.
jangan cuma mikir rugi karena kasih helm ke konsumen akan menambah production cost. Jangan cuma bicara tanpa solusi.

AISI masih peduli dengan keselamatan berkendara atau tidak?

Atau cuma peduli dengan industri Soang dan Itiknya yang laku keras bak kacang rebus? cuma peduli sama bisnis, profit dan uang…bah..apa AISI cuma sekumpulan orang susah yang gak cukup pintar untuk berpikir lebih luas dari sekedar uang dan profit?

Semoga para pejabat AISI membaca opini saya.





Road Safety Association goes to Pabrik Helm

20 11 2009

JAKARTA- Road Safety Association (RSA) bersama sejumlah anggota kelompok sepeda motor berkunjung ke pabrik helm PT Dinaheti Motor Industri (DMI), Cikarang, Jawa Barat, Selasa (20/10). Kunjungan tersebut bertujuan guna menambah wawasan tentang proses produksi helm, termasuk kualitas Standar Nasional Indonesia (SNI) Wajib untuk helm.

Menurut dia, tujuan dari kunjungan ke pabrik DMI juga untuk sosialisasi kepada para pengendara sepeda motor, khususnya klub/komunitas pengguna sepeda motor yang berhimpun di RSA. Perwakilan klub/komunitas pengguna sepeda motor yang ikut kunjungan antara lain DeNyut RC, HSJ, Barac, Hornet, YJOC, Everbikers, Milys, Pulsarian Community, HTML, dan YVC Depok. “Klub/komunitas pengguna sepeda motor ini adalah agen penyebar virus road safety, diharapkan mereka dapat membagikan pengetahuannya ke masyarakat pengguna sepeda motor di lingkungan masing-masing anggotanya” tandas Eko Cahyo Wibowo, wakil ketua RSA.

Selamat Datang RSA

Helm merupakan kelengkapan bersepeda motor yang wajib dipakai oleh setiap pengendara atau penumpang sepeda motor. Undang Undang No 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ), khususnya pasal 57 ayat 2 menegaskan bahwa setiap pengendara sepeda motor wajib memakai helm sesuai standar nasional Indonesia. Siapa saja yang melanggar aturan ini bisa dikenai sanksi kurungan maksimal satu bulan atau denda maksimal Rp 250 ribu. Tujuan aturan ini jelas untuk melindungi pengendara sepeda motor terhindar dari risiko kecelakaan. “Luka paling fatal yang dialami pengendara sepeda motor adalah akibat cedera di kepala, ini terkait dengan budaya indisipliner pengguna sepeda motor terhadap peraturan lalu lintas,” tutur Rio Octaviano, ketua RSA.

Manajemen PT DMI menjelaskan soal proses produksi helm. Mulai dari pembuatan tempurung helm yang terbuat dari thermal polymer, pembuatan emblem SNI yang langsung di-emboss pada saat pencetakan, hingga pemasangan bagian dalam helm. Seluruh proses produksi harus memenuhi standar mutu ISO 14000 tahun 2008 dan produknya harus lolos uji standardisasi SNI 1811 tahun 2007. Dalam presentasinya GM Manufacturing Operation PT DMI Thomas Lim menjelaskan tiga macam jenis helm yaitu full face, open face dan half face. “Helm Half Face itu adalah helm cetok yang hanya melindungi bagian atas kepala, sedangkan helm Open Face melindungi bagian atas dan samping kepala sehingga lebih aman,” jelas Thomas Lim.

RSA juga memperoleh penjelasan mengenai uji laboratorium SNI helm. Beberapa fase pengujian mencakup uji penyerapan energi kejut (impact energy), dilanjutkan uji penetrasi, uji chin strap, dan uji EPS shell. ”Tiap negara mempunyai kriteria sendiri-sendiri, tidak semuanya bisa disamakan standarnya. Pemerintah memiliki tim teknis yaitu Badan Sertifikasi Nasional (BSN) yang merumuskan standar kualifikasi SNI, bahkan standar SNI diakui lebih ketat dari standar DOT (Amerika) yang masih mengizinkan pemakaian helm half face (cetok)” papar Henry Tedjakusuma, direktur PT DMI.

Ketentuan SNI wajib untuk helm tertuang dalam Peraturan Menteri Perindustrian No 40/M-IND/Per/6/2008 tanggal 25 Juni 2008. Semula, ketentuan itu berlaku mulai 25 Maret 2009, namun diundur menjadi 25 Maret 2010 karena ada permintaan dari sejumlah produsen helm.

SNI mengacu kepada standar Japan International Standard dan standar Eropa Saat ini, produksi helm di Tanah Air berkisar 9-10 juta unit per tahun. Sebagian produsen juga telah mengekspor produk mereka ke pasar Eropa dan Amerika.

Henry juga menjelaskan bahwa helm produksi di atas April 2009 harus sudah mengikuti sertifikasi SNI. Adanya sertifikasi SNI ini selain menjaga kualitas produk juga mencegah kemungkinan importir pemasok helm impor yang kadaluarsa atau cacat produksi untuk mengedarkan produk gagal tersebut di pasaran Indonesia.

Berdasarkan data Depperin, selama ini hanya 7 dari 15 perusahaan helm skala besar yang mengajukan Sertifikat Produk Pengguna Tanda (SPPT) SNI. Ketujuh perusahaan itu antara lain PT Tara Citra Kusuma, PT Dinaheti Motor Industri (DMI), dan PT Tara Kusuma Indah (TKI).

RSA menilai, SNI cukup mumpuni untuk melindungi para pengguna helm di Tanah Air. Konsep perlindungan terhadap pengendara sepeda motor, khususnya terkait helm, juga telah disiapkan oleh pemerintah. Proses produksi helm akan diawasi oleh Departemen Perindustrian, lalu peredarannya diawasi Departemen Perdagangan, dan Departemen Perhubungan akan membuat regulasi pemakaian helm, sedangkan Kepolisian Republik Indonesia berperan selaku penegak hukum. “Sayangnya, ini hanya akan menjadi isapan jempol belaka bila tidak diiringi dengan niat baik dan konsistensi dari berbagai instansi tersebut,” ujar Rio Octaviano.

Ia menambahkan, kegiatan penegakan aturan di lapangan masih tidak karuan. ”Masih banyak penyimpangan dan inkonsistensi” tuturnya.

===

Para peserta yang hadir diharapkan dapat membagi pengalaman berkunjungnya ini kepada kawan-kawannya. Salah satu report datang dari peserta kunjungan yaitu bro Sam Artanto, member Pulsarian Community bernomor ranger #615 yang kebetulan berdomisili di Cikarang, berikut tulisan lengkapnya:

===

PT Dinaheti Motor Industri (PT DMI) adalah induk dari PT Tara Citra Kusuma dan PT Tara Kusuma Indah yang kesemuanya memproduksi helm. PT DMI adalah OEM (Original Equipment Manufacture) atau dengan kata lain perusahaan yang memproduksi merk lain atas pesanan pemilik merk. Kami melihat di show room banyak helm dengan merk luar, saya tidak sebutkan satu persatu karena menurut keterangan Direktur mereka ada perjanjian dengan pemegang merk untuk tidak men-disclose ke pihak luar bahwa merk tersebut dibuat di situ. Hari, tanggal  : Selasa, 20 Oktober 2009

Waktu   : Pukul 14.00 WIB – 18.00 WIB

Tempat  : PT DMI / PT Tata Citra Kusuma (anak perusahaan PT DMI)

Jl. Meranti 3 Blok L, no3-5

Delta Silicon Industrial Park, Cikarang

Peserta (Pulsarian) :

Benny Novianugroho (RSA)

Mami Merry (Squadron)

Sam Artanto (Rocketer #615)

19 anggota RSA + 1 wartawan Bikers Magz

Host   :

Bp. Thomas Lim ( GM manufacturing Operation)

Bp. Henry Tedjakusuma (Director & Owner)

Pak Thomas Lim dan Pak Henry

Topik   : Apakah helm buatan lokal dapat dipercaya kualitasnya ?

Latar Belakang

Bahwa PT Dinaheti Motor Industri (PT DMI) adalah induk dari PT Tara Citra Kusuma dan PT Tara Kusuma Indah yang kesemuanya memproduksi helm. PT DMI adalah OEM (Original Equipment Manufacture) atau dengan kata lain perusahaan yang memproduksi merk lain atas pesanan pemilik merk. Kami melihat di show room banyak helm dengan merk luar, saya tidak sebutkan satu persatu karena menurut keterangan Direktur mereka ada perjanjian dengan pemegang merk untuk tidak men-disclose ke pihak luar bahwa merk tersebut dibuat di situ.

Meskipun ane sempat terperangah ketika mengetahui beberapa merk helm yang sangat terkenal ternyata diproduksi di situ, silakan japri ane kalau ingin tahu…jangan gondok ya..hehehe

Sekilas tentang Helm SNI

Berkaitan dengan isu Helm SNI (Standar Nasional Indonesia) disampaikan bahwa standarisasi helm sebenarnya sudah dimulai tahun 1990 dengan nama SII (Standar Industri Indonesia). Pada tahun 1990 SII diganti menjadi SNI (Standar Nasional Indonesia) dengan nomor SNI 09-1811-1990 yang banyak mengadopsi norma-norma standar JIS (Japan Industrial Standard). Penerapan SNI helm masih bersifat sukarela, sehingga belum banyak industri helm yang melakukan sertifikasi helm.

Seiring dengan berjalannya waktu industri helm nasional berkembang pesat, tetapi di lain pihak tingkat kecelakaan sepeda motor yang menyebabkan luka fatal dan meninggal dunia terus meningkat. Melihat kenyataan ini pada tahun 2007 Departemen Perindustrian RI merencanakan penerapan SNI helm secara wajib dengan mengacu pada SNI 1811-2007 yang merupakan revisi SNI 09-1811-1990 terbitan Badan Standarisasi Nasional. SNI 1811-2007 ini mengadopsi beberapa standar di dunia, diantaranya : BS 6658 : 1985, EN 960 : 1994, E/ECE/Trans/505.

Pada tanggal 25 Juni 2008 Pemerintah menerbitkan Permen Perindustrian no.40/M-IND/PER/VI/2008 tentang pemberlakuan SNI helm pengendara kendaraan roda dua secara wajib yang akan berlaku efektif 9 (sembilan) bulan sejak tanggal ditetapkannya, yaitu 25 Maret 2009. Akan tetapi di Indonesia masih terkendala dengan banyaknya industri kecil helm yang belum siap dan juga disyaratkannya produsen helm harus memegang ISO 9001/2008, maka pemerintah menerbitkan Permen Perindustrian no. 40/M-IND/PER/ IV/ 2009 yang menunda pemberlakuan SNI helm secara wajib sampai dengan tanggal 1 April 2010. Berkenaan dengan penundaan ini pelaksanaannya adalah untuk produksi sebelum 1 April 2010 tanpa SNI tidak apa-apa beredar, akan tetapi setelah 1 April 2010 harus SNI baru.

Penulis sempat bertanya bagaimana dengan helm impor yang tidak ada tulisan SNI setelah diberlakukannya SNI ? Jawabannya tidak secara eksplisit disampaikan, tetapi pada intinya SNI sudah dibuat dengan penggabungan beberapa standar internasional yang sudah cukup bagus dengan tujuan untuk melindungi pemakai helm Indonesia. Standar dari negara lain belum tentu lebih bagus bagi negara kita. Misalnya di Amerika masih diperbolehkan helm model “cetok” / batok half face yang masih kelihatan telinga untuk dipakai. Kami lihat Harley Davidson memesan helm model ini. Menurut mereka dasar pemikirannya helm dibutuhkan untuk melindungi otak dimana letak otak adalah di kepala bagian atas sampai agak ke bawah, dan oleh karena itu cukup dilindungi dengan helm model “cetok”.

Hal ini berbeda dengan negara-negara Eropa dengan standar EC 2205 yang mensyaratkan helm harus menutup sampai bagian telinga. Oh ya, ada istilah di dunia helm yang perlu kita ketahui, di kalangan industri helm mereka membagi helm menurut bentuk dalam 3 kelompok yaitu :

Helm Half Face : Ini yang kita kenal dengan model “cetok” atau kuping kelihatan.

Open Face   : Ini yang kita biasa sebut dengan half face di Indonesia, sampai
menutup kuping

Full Face   : Menutup semua sampai mulut

Di samping hal di atas, polemik helm SNI juga tidak lepas dari kepentingan para importir helm merk asing yang pasti terpukul dengan kebijakan pemerintah ini.

Berkaitan dengan tuduhan beberapa pihak yang menyatakan SNI helm ini adalah akal-akalan para produsen helm, bapak Thomas Lim menyampaikan bahwa ini bukan kemauan mereka, bagi produsen sendiri sebenarnya SNI ini menyusahkan karena harus ISO 9001 dan harus meng-emboss (tulisan timbul) di body helm yang artinya biaya untuk membuat mold (cetakan). Ditambah lagi harus membentuk asosiasi untuk memenuhi syarat Deperindag ke WTO (World Trade Organization), dimana di kalangan anggota asosiasi helm (AIHI) sendiri pada awalnya kebingungan mau ke mana karena masing-masing punya kemauan sendiri serta mengganggu target perusahaan dan kemudian dipaksa untuk membentuk asosiasi.

Helm Produksi PT. DMI

Produksi helm dan pengujian

Kalau di atas penulis sudah sampaikan pembagian helm menurut bentuknya, maka kita bahas khusus helm full face.

Berdasarkan fungsinya helm full face dibagi 4 :

Street Helmet, helm seperti yang kita pakai sehari-hari
Racing Helmet, helm untuk balap
Off Road Helmet, biasa dipakai untuk motor trail
Snow Mobile Helmet, dipakai untuk kendaraan salju. Untuk mencegah kaca berembun karena nafas maka dipasang pemanas dan lensa double.

Bagian – bagian utama helm

Bagian-Bagian Helm

Shell / Cangkang keras : terbuat dari bahan ABS, fiberglass, atau yang ringan dan kuat dari carbon.

EPS Shell (Expandable PolySterene) : Semacam sterofoam  tapi yang mampu meredam goncangan, dengan High density tertentu (tingkat kepadatan tertentu).

Comfort Padding : Terdiri dari Top padding (lapisan kain dalam), Crown padding (lapisan kain tebal setelah Top padding), Cheek padding (lapisan di pipi) dan Neck roll (pelindung leher).

Chin Strap : Tali dagu

Visor / Shield : Kaca pelindung depan (bagian ini optional)

Accessories : mulai stiker air sampai hiasan yang menempel di shell (bagian ini optional)

Proses Produksi
Seperti industri lain secara garis besar dikelompokkan dalam 4 tahap :

  1. Proses Pencetakan
  2. Proses Pengecatan
  3. Proses Perakitan
  4. Quality Control

Diantara masing – masing proses tersebut di atas dilakukan juga quality control.

Di dalam factory tour kami bisa melihat proses pencetakan shell dengan mesin modern, dimana biji plastik ABS dihisap ke dalam mesin pencetak dan operator tinggal men-set ketebalan shell, tak lama kemudian mesin terbuka dan jadilah shell helm model off road.

Kami juga mengamati proses pembuatan helm dengan bahan fiberglass yang masih manual dengan menggunakan tangan. Sebagai orang yang pernah menjadi buruh pabrik beberapa tahun di dua industri, penulis bisa sampaikan bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja di situ banyak yang masih harus diperbaiki dan hal ini sudah penulis sampaikan langsung ke Direktur saat factory tour.

Hal yang menarik adalah penempelan stiker air pada Shell yang telah dicat. Seperti yang kita ketahui helm mempunyai banyak motif gambar. Tadinya kami pikir gambar tersebut dicat, ternyata itu semua adalah stiker air. Jadi mereka menempelkan sejenis stiker yang dibasahi air, untuk kemudian dirapikan. Setelah itu dikeringkan selama sehari baru kemudian diberi lapisan pelindung.
Pengujian Helm

a. Pengujian berkaitan dengan batok / shell helm :

Uji Impact

1. Uji penyerapan energi kejut : Tidak boleh melebihi 300 G (gravitasi)

Test Uji Kejut

2. Uji Penetrasi : Helm dipukul dengan logam yang dijatuhkan dari ketinggian tertentu

Uji Impact Miring

3. Uji ketahanan impact miring : Helm dijatuhkan dengan posisi miring, dengan asumsi banyak kejadian jatuh pada posisi miring

Uji Chin Strap

4. Uji pelindung dagu (khusus untuk helm full face)
b. Pengujian berkaitan dengan Chin strap / Tali dagu :

Yaitu untuk melihat apakah ada perpanjangan tali ketika dijatuhkan
Uji keandalan sistem penahan pada tali, terdiri dari :
Uji kekuatan sistem penahan
Uji kelicinan tali helm
Uji keausan tali helm
Uji keefektifan sistem penahan, dengan cara ditarik kuat ke belakang.

Foto-foto selengkapnya dapat dilihat di Facebook ane





Seputar Penggunaan Asesoris Haram di Kendaraan

17 11 2009

Di Facebook beberapa kawan ane saat ini ramai diperdebatkan
pemakaian asesoris non-standar yang menyalahi peraturan seperti sirine, strobo dan lampu rotator, juga kenalpot berisik.

pihak pemakai asesoris berdalih sebagai berikut ane ringkas saja:

- mengaku memiliki izin pemakaian yang diterbitkan oleh aparat
– hanya asesoris saja, terpasang di kendaraan, tapi mengaku tidak digunakan
– motor aing kumaha aing, gak usah ganggu barang gue lah
– asesoris ini dibeli dengan uang halal, bukan uang milik orang lain..kenapa harus diributkan?
– kawan-kawan si pemilik motor turut mendukung kawannya yang memakai asesoris tsb.

sementara pihak anti asesoris haram berpendapat sebagai berikut:
– menuntut ditunjukkan bukti izin pemakaian asesoris seperti sirine, strobo, lampu rotator.
– meminta agar asesoris tsb. dilepas karena melanggar peraturan lalu-lintas.

salah satu komen yang membuat ane respect terhadap klub/komunitas motor datang dari milis HTML sebagai berikut:

========================

Re: Fw: Bagaimana Dengan Knalpot Brisik?

Posted by: “bilson simamora” bilsonsimamora@yahoo.com bilsonsimamora

Mon Nov 16, 2009 7:50 pm (PST)

Setuju banget ama bro ridwan ama ozqian soal ri5rene dan lampu strobo. Pokoknya HTML harus taat aturan. Ngga ada istilah “tergantung orangnya”. Kalau tidak setuju pada ide “TAAT ATURAN” ini, brarti HTML setara dengan geng motor.

Sebenarnya, bukan hanya masalah strobo dan sirene yang perlu dipratiin. Masalah knalpot brisik juga perlu. Banyak motor yang meneror pengendara lain dengan knalpot motornya yang memekakkan telinga. Orang seperti ini maunya merangsek terus ke depan. Maunya dikasi jalan terus oleh pengendara lain.

Kalau mau keras-kerasan suara knalpot, siapa saja bisa. Berapa sih harganya? Dengan 250 rebu sudah dapat knalpot racing atau free flow. Emang seh pemakainya puas, tapi bagaimana dengan orang lain, apa dipratiin? Gimana komen brader-brader smuanya? Saya seh sampai sekarang masih pasang standar. Pissss ========================

kalau menurut ane sebaiknya para pemasang asesoris haram itu dapat belajar dari klub/komunitasnya tentang pemakaian asesoris ini, jika klub/komunitas tidak mengajarkan peraturan lalu-lintas dan cara berkendara yang benar, maka hanya akan menghasilkan individu-individu tanpa nilai tambah. Sementara tentu saja klub dan komunitas otomotif diharapkan dapat menjadi agen penyebar virus aman berkendara dan etika berlalu-lintas.

Jika tidak dilakukan, maka bagaikan makan sayur tanpa piring.

TETAP DUKUNG GERAKAN ANTI SIRINE DAN STROBO!





Yamaha Meluncurkan Motor Baru – Preview New Product with Yamaha

15 11 2009

Komentar ane : produk baru yang tidak menarik.

Sekian.





Knowledge Sharing : Safety Riding Clinic JDDC

10 11 2009

Kebiasaan akan membentuk Seseorang.

Ane pikir inilah dasar pemikiran pada kegiatan Safety Riding Clinic yang diprakarsai oleh JDDC (Jakarta Defensive Driving Consulting) dan Komunitas Motor Besar Indonesian Biker Society (IBS-88). Sudah sejak dua minggu yang lalu ane menerima message via Facebook bahwa JDDC akan mengadakan kegiatan ini di North Parking EX Plaza. Dengan “hanya” Rp 600,000 para peserta dapat mendapatkan pengalaman dan pelajaran penting dalam berkendara sepeda motor yang dibawakan langsung oleh boss JDDC yaitu bro Jusri Pulubuhu.

DSCN2189

SRC JDDC

Apa saja yang diajarkan oleh bro Jusri? Berikut saya bagikan ilmunya.

Clinic dimulai dengan bahasan mengenai reflex pada saat berkendara. Reflex adalah tindakan manusia yang diambil tanpa pertimbangan. Secara medis aliran syaraf tidak melalui otak. Reflex dalam berkendara dapat membahayakan atau menyelamatkan, tergantung pada habit atau kebiasaan yang secara terus-menerus diulangi. Reflex adalah bentuk respon pengendara sebagai tanggap terhadap keadaan mendesak saat berkendara yang terjadi dalam orde hitungan detik.

Untuk menghasilkan gerakan reflex yang tepat (baca: menyelamatkan) maka perlu dibiasakan dan dilatih cara dan metode berkendara yang tepat. Untuk itulah Safety Riding Clinic ini diadakan, yaitu untuk membentuk respon pengendara secara tepat pada saat gerakan reflex dibutuhkan. Juga untuk mengarahkan pengendara bagaimana berkendara motor dengan benar dari sebelum, selama dan sesudah berkendara.

Berikut ulasan materi pelatihannya, penekanan pada kata BIASAKAN menunjukkan bahwa kesalahan sering terjadi pada cara berkendara tersebut:

SLIDE - 1

SLIDE - 1

1. Riding Posture

Mari kita naik ke atas motor. Selalu naiki motor dari sebelah kanan pada saat standar miring dengan melipat kaki (agar tidak menyenggol box), dan turun dari sebelah kiri. Jika motor berada pada standar tengah, tidak masalah untuk menaiki motor dari kedua sisi. Posisi berkendara yang benar adalah tidak membungkuk dan tidak menyandar, pastikan tulang punggung tegak dan seluruh tubuh senyaman mungkin.

a. Palm & Hand Position

Genggam stang dengan jari yang terhubung ke otot trisep yaitu jari tengah, jari manis dan kelingking karena kekuatan dibutuhkan untuk mengendalikan stang. Sementara itu jari telunjuk disiagakan di tuas rem depan.

Posisi lengan tidak boleh terlalu lemas, angkat sedikit siku, jangan biarkan tertekuk ke bawah. Posisikan tuas rem dan kopling tidak terlalu datar tapi membentuk sudut dengan posisi ke bawah.

DSCN2149

Riding Posture

b. Foot & Knee

Bro Jusri mengatakan terdapat tiga posisi telapak kaki di foot step, depan, tengah dan belakang. Pada kegiatan riding normal, posisikan telapak tangan sedemikian rupa sehingga mampu menjangkau tuas rem dan transmisi.

Posisi lutut tidak boleh terbuka, usahakan mengimpit tangki secara relax, untuk pengendara matic dan bebek, usahakan kedua lutut bertemu untuk keseimbangan.

c. Visibility

Pandangan menentukan keseimbangan pada saat berkendara. Untuk membuktikan hal ini bro Jusri meminta salah seorang peserta untuk berdiri tegak sementara bro Jusri siap memberikan dorongan kuat dari belakang. Pada saat posisi mata lurus ke depan, badan akan lebih kuat ketimbang ketika posisi mata ke bawah.

Demikian halnya pada saat berkendara membelok, mata yang mengarah ke arah belokan akan membuat pengendara lebih stabil dan tidak merasa paranoid untuk jatuh.

Pada saat berkendara pandangan tidak boleh difokuskan pada satu titik, tapi harus menyebar untuk mengantisipasi segala kemungkinan.

SLIDE - 2

SLIDE - 2

DSCN2155

Pandangan Mempengaruhi Keseimbangan Tubuh

2. Initial Rolls

Sekarang ente sudah di atas motor dan akan bergerak. Apa saja yang harus dilakukan dan diperhatikan?

a. Left Foot One Step Ahead (2-4) & Up

Pada saat torsi diberikan dan motor mulai bergerak perlahan, biasakan tidak langsung mengangkat kedua kaki, Tengok sekeliling dan spion, pastikan kondisi aman untuk mulai berkendara. Berjalanlah perlahan seiring gerakan motor dimulai dengan urutan berikut: kiri – kanan – kiri – kanan (UP), pada posisi kanan terakhir ini, kaki kanan diangkat ke footstep, disusul dengan kaki kiri. Biasakanlah hal ini setiap mulai berkendara.

b. In Case of Stop Do Not Use Front Brake

Pada saat awal berkendara dan ente berada pada kecepatan “walking speed” di bawah 20 km/jam gunakanlah rem belakang untuk menghentikan laju motor, dan bukan rem depan.

c. During Initial Rolls, Straight Forward Your Front Wheel

Biasakan meluruskan roda depan ketika motor mulai melaju, jangan sekali-kali start motor dengan posisi roda depan membelok!

SLIDE - 3

SLIDE - 3

3. Braking

Pengereman yang baik akan menghentikan motor dengan jarak henti sependek mungkin.

a. Threshold

Kenali jarak pengereman motor ente, ujilah dengan mengukur jarak henti ketika menggunakan pengereman dengan rem depan dan belakang maupun dengan kedua rem secara terpisah.

b. Squeeze

Biasakan meremas tuas rem secara perlahan, bukan langsung menarik sekuat tenaga. Hal ini untuk mencegah roda slip alias kehilangan daya cengkeram (traksi) dengan jalan.

c. Stopping Position

Ketika menyelesaikan proses pengereman dan motor sudah berhenti, Biasakan menurunkan kaki kiri terlebih dahulu dan jangan lepaskan kaki kanan dari pedal rem sampai motor benar-benar berhenti sempurna. Pada kebanyakan pengendara, kaki kanan akan turun terlebih dahulu. Ini sangat membahayakan karena proses pengereman belum selesai yang berpotensi menyebabkan roda belakang slip.

d. Walking Speed, Use Rear Brake

Seperti telah dibahas sebelumnya, biasakan menggunakan rem belakang ketika berkendara dan hendak mengerem dalam kecepatan kurang dari 20 km/jam.

e. Slippery, Don’t place Your Finger On Brake Lever

Jika motor slip, jangan posisikan jari pada tuas rem. Kebanyakan pengendara akan reflex menarik tuas rem pada saat mendesak, dan hal ini membahayakan.

i. Walking Speed –> Rear Brake

Sudah dibahas sebelumnya.

ii. Steady Speed –> Both – Threshold (Don’t Squeeze)

Ketika berkendara dalam kecepatan konstan (steady) dan ente hendak mengerem, maka biasakan menarik tuas rem dan sepersekian detik kemudian menginjak pedal rem. Gunakan kekuatanpada rem depan sebesar 70% dan rem belakang sebesar 30%. Prinsip ini juga diadopsi pada teknologi ABS (Anti-lock Brake System) untuk mencegah roda slip.

DSCN2175

Berlatih Metode Pengereman

4

SLIDE - 4

4. Single Riding

Mari kita berkendara tunggal, tanpa penumpang. Apa saja yang perlu diperhatikan?

a. Aim : “RIDE & FUN”

Ingat tujuan awal. Berkendara untuk bersenang-senang dan menikmati perjalanan, oleh karena itu pastikan motor dan diri ente layak untuk berkendara.

i. T-CLOCS & Emergency Contact

T-CLOCS adalah metode pemeriksaan motor yang meliputi elemen Tires, Chain, Lamp, Oil, Chassis dan Kick Stand, sebelum mulai berkendara, biasakan melakukan pemeriksaan motor ini.

ii. Ride With Emphaty

Bro Jusri mengingatkan bahwa ketika berkendara berkelompok, baik itu motor besar maupun motr kecil sekalipun arogansi akan berpotensi timbul, oleh karena itu gunakan empati ketika berkendara. Bayangkan jika ente menjadi pengendara lain di sekitar ente. Apa yang akan mereka pikirkan tentang ente?

iii. What a First?

Apa saja yang harus dilakukan dan diutamakan?

1. Slow Down

Saat panca indra ente menangkap sesuatu yang tak lazim, perlambatkan laju motor, namun ingat bahwa respon yang tepat tidak selalu harus dengan mengerem. Jika setelah ente melambat kondisi berubah segera ambil keputusan untuk terus melaju atau mengerem dan berhenti.

2. Intersection

Pada setiap persimpangan, dahulukan lalu lintas dari arah kanan, UU no.22 tahun 2009 tidak mengizinkan pengendara untuk belok kiri langsung kecuali ada rambu lain yang mengizinkan. Biasakan amati keadaan di arah belokan setiap kali ente membelok.

3. Changing Lane

Berpindah lajur dengan memotong garis marka putus-putus kadang perlu dilakukan. Biasakan menyalakan sein, lihat spion, lihat ke samping dan belokkan motor secara perlahan. Jangan lakukan manuver mendadak selama berkendara.

DSCN2217

The Bikes

b. Group Riding

Berkendara berkelompok memang menyenangkan, namun keamanan berkendara tetap nomor satu.

i. Pre-ride briefing

Biasakan mengadakan briefing singkat sebelum berkendara, berapa kecepatan maksimum, dimana harus berhenti, berapa frekuensi radio komunikasi dan lain-lain.

ii. RC, Voor Rider, Sweeper & Officer

Tentukan siapa pengendara yang tepat untuk bertanggung jawab pada posisi tersebut.

iii. Indication, Overtake, Trouble Rules

Jelaskan isyarat tangan dan kaki yang akan diambil, bagaimana menyalip kendaraan lain dengan aman dan apa yang harus dilakukan seandainya terjadi hal terburuk.

iv. Rest Period

Biasakan berkendara tidak lebih dari dua jam. Kelelahan akan memicu kecelakaan. Pada saat darurat, ketuk helm ente dan menepilah segera. Biarkan rekan terdekat membantu ente.

Sebagai materi tambahan bro Jusri juga memberikan selembar kertas mengenai sosialisasi Undang-Undang Lalu-Lintas no.22 tahun 2009 yang lebih tegas dari Undang-Undang sebelumnya. Acara dilanjutkan dengan makan siang bersama, ditraktir oleh bro Jusri.

DSCN2224

Lunch with Bro Jusri @ Fish Co. EX Plaza

DSCN2202

Mendirikan Motor Besar

DSCN2211

Riding with Passenger

Overall, seluruh materi baik praktek maupun teori sudah ane ketahui dan ane pelajari di beberapa kegiatan Safety Riding Course sebelumnya. Hal yang dapat ane ambil pada kegiatan ini yang barangkali menyebabkan biaya Clinic ini relatif mahal adalah peragaan metode membelok dengan counter weight dan metode pengereman yang diperagakan langsung oleh bro Jusri, juga pelajaran berharga bahwa gerakan reflex kita dalam waktu sepersekian detik ditentukan oleh cara berkendara kita yang dilakukan berulang-ulang selama  sekian ribu jam. Oleh karena itu, pastikan cara berkendara ente sudah benar.

Berfoto Bersama

IBS-88 Berfoto Bersama





Penegakan Hukum Lalu-lintas, Niatnya Apa?

2 11 2009

Highway Patrol

Sewaktu break session di Safety Riding Clinic JDDC hari Minggu kemarin, ane sempat ngobrol dengan bro Guruh, salah satu peserta.

Obrolan makin hangat kala bro Jusri mengangkat topik sosialisasi Undang-Undang no.22 tahun 2009. Diskusi berkembang dan salah satu point yang ane dengar dari bro Guruh adalah sharing pengalaman berlalu-lintasnya sewaktu ia tinggal di Amerika.

Di Amerika, sistem manajemen lalu-lintasnya sudah baik. Pengalamannya sewaktu pertama kali diberhentikan Polantas (Highway Patrol) ia merasa deg-degan, namun ternyata Pak Polantas hanya menegur dan mencatat plat nomor kendaraan saya karena overspeed. Pelanggaran kedua kembali ia lakukan dua minggu kemudian dan lagi-lagi mendapatkan teguran.

Saat mendapatkan teguran kedua itu, Pak Polantas menegaskan bahwa ia sudah melanggar peraturan lalu-lintas yaitu overspeed sebanyak dua kali. Ternyata data pelanggaran kendaraan sudah tercatat secara online. Bro Guruh pun mendapat ultimatum dari Pak Polantas bahwa jika sekali lagi ia melakukan pelanggaran overspeeding, maka SIM akan dicabut dan ia harus mengikuti driving course kembali selama dua hari berturut-turut.

Hal menarik yang ane ambil dari kisah bro Guruh ini adalah sebagai berikut:

- Manajemen “law enforcement” di Amerika sudah sangat maju.
– Setiap pelanggaran akan mendapatkan dua kali teguran, pada teguran yang ketiga maka konsekuensi berlaku.
– Pada setiap pelanggaran, pengguna jalan akan mendapatkan kesempatan untuk belajar dari kesalahannya.
– Terdapat fungsi edukasi yang dilakukan oleh aparat terhadap pelanggar lalu-lintas.

Dari kisah singkat ini kemudian ane bandingkan dengan kenyataan di Indonesia, terutama ketika sosialisasi Undang-undang no.22/2009 sedang hangat-hangatnya.

Mengapa pembuat undang-undang dan instansi terkait tidak memikirkan edukasi terhadap pengguna jalan dan hanya memikirkan sebab-akibat dan pelanggaran-denda?

Seharusnya instansi terkait pembuat, pelaksana dan penegak hukum lalu-lintas dapat belajar dari negara lain yang lebih maju.








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.910 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: