Ane adalah salah satu orang yang gemar nongkrong di Taman Suropati, lokasi itu sangat nyaman untuk berkumpul bersama teman-teman. Begitu banyak pohon rindang dan juga rerumputan. Inilah salah satu area hijau Jakarta.
Namun, sejak sekitar tahun 2010 kenikmatan itu terganggu, bagi ane yang tidak tiap hari berada di sana barangkali kurang merasakan dampaknya, namun bagi penjaja makanan dan minuman di Taman Suropati..setiap hari merupakan permainan kucing-kucingan.
Ane lihat sendiri bagaimana penjual minuman botolan, sebut saja namanya Bu Yati harus berjualan sambil sewaktu-waktu terus waspada terhadap petugas Satpol PP atau Tramtib yang bisa setiap saat datang dan menangkap Bu Yati serta merampas barang dagangannya.
Ya, dari kacamata warga yang kerap nongkrong di sana, pedagang makanan-minuman adalah kawan, namun bagi petugas Satpol PP atau Tramtib, mereka adalah hama yang harus dibasmi.
Oke..itu adalah ganjalan pertama, mengenai sikap aparat Jakarta terhadap wong cilik di Taman Suropati.
Uneg-uneg yang terasa bagi ane masih ada lagi..nih dia ane sebutkan poin-poinnya.
- Larangan implisit untuk komunitas motor untuk parkir dan berkumpul di Taman Suropati
Yess..setelah hampir tiga tahun nongkrong di Taman Suropati, rupanya petugas dari Dishub mulai “mengusir secara halus” anak-anak motor yang nongkrong..caranya dengan memasang cone dan tali dengan maksud agar mobil atau motor tidak bisa parkir di pinggir Taman Suropati. Alasannya? Oh..rupanya Pak Gubernur yang berkumis itu tidak suka “halaman depannya” dikotori keramaian. Wow…!!
- Pembuatan lapisan batu bata di atas jalan aspal Taman Suropati
Jalanan sudah bagus dengan aspal mulus, lha kok dikasih semacam lapisan batu bata yang menonjol. Akibatnya segala kendaraan yang melintas akan terguncang, bagi pemotor, kalau tidak waspada siap-siap jatuh karena roda terantuk bata yang tersembul.
- Arogansi pengawal gubernur Jakarta
Jl. Taman Suropati nomor 7 tepat di hook, adalah Rumah Dinas Gubernur DKI Jakarta. Sudah jadi pemandangan umum setiap ane kopdar di Taman Suropati menyaksikan Gubernur Jakarta yang berkumis itu pulang ke rumah dinasnya dengan dikawal oleh BM bermotor Harley Davidson Electra. Tapi tunggu dulu, pengawalan itu rupanya tidak bersahabat bagi pengguna jalan lain. ane dan beberapa kawan pernah nyaris terkena tendangan si pengawal karena dianggap menghalangi jalan sang Gubernur. Lha..kami mau kopdar naik motor sudah di pinggir, pelan-pelan..lha kok ditendang?
Kalau ane perhatikan, root of all evil di sini adalah sikap dan sifat sang Gubernur yang tidak peduli terhadap keberadaan ruang publik yang terletak tepat di depan rumah dinasnya. Beliau tidak ingin waktu istirahatnya terganggu suara motor yang melintas, mungkin itu alasan dibangunnya lapisan bata di taman Suropati. agara semua pengguna jalan berjalan pelan. Tapi pantaskah itu?
Ane berharap Gubernur dengan mental tipikal arogan ala penguasa semacam ini dapat digantikan dengan Gubernur baru yang lebih membumi dan merakyat…!!
Jakarta akan lebih OKE tanpa “F”…Setuju…??!












(1)(1)(3)(4).png)

Artikel yang setali tiga uang dengan mbah dukun, artinya perubahan buat jakarta yang lebih baik
setuju…
nanya kok nanya persoalan pribadi…
jawab kok bertele-tele dengan sindiran pribadi ke lawan…
F oh F, bapakmu wong Jowo, ngaku2 Betawi, piye tho?
belum lama ini saya ada tugas kuliah buat film disana.. tiba2 gak lama take gambar, datanglah beberapa security kedubes AS.. mereka minta data2 kami macam ktp, kartu mahasiswa dan liat isi film dan kamera.. juga nomer telepon, untung cuma 1 nomer yang dikasih.. sampai kami semua pun difoto masing oleh security itu.. katanya kalau ambil gambar ke arah kedubes harus dicek dulu.. bukan cuma kami yang kena, beberapa kelompok orang yang lagi foto2 pun demikian..
setelah kejadian itu datanglah seorang tukang minuman ke kami.. ia bilang, “tadi mah jangan dikasih dek, biasanya kalo ada kepala petugas di pospol (lupa namanya pak siapa gitu), ia selalu melarang security itu.. katanya ini kan taman umum, jadi siapa saja boleh2 ambil foto2 disini..” cuma sayangnya saat itu pak kepala pospol lagi gak ada (gak piket), yaudah saya sebelumnya sudah terpaksa kasih data2 kami ke mereka..
kurang lebih begitu pengalaman saya..
pertanyaan saya: APA IYA MAU NONGKRONG ATAU FOTO2 DISANA (TAMAN MILIK PEMPROV DKI) HARUS IZIN DULU KE KEDUBES AS?
masalah parkir dan jalanan bata saya juga pebngalaman.. sebelumnya saya gak tau disana ada jalanan bata, yaudah lah riding seperti biasa.. eh tiba2 ajrut2an baru sadar kalo jalanan bata, kebetulan saat itu sedang malam jadi gak terlihat jelas.. untung gak kaget dan jatuh..
dan masalah parkir, terakhir kesana beberapa bulan lalu masih bisa di deket pospol.. cuma kata tukang parkir ya untung2an, kalo dibubarin ya terpaksa bubar..
Miris dah pokoknya..
jakarta butuh perubahan titik
Kalo dukung KERA nanti Jakarta kayak hutan rimba
wkwkwk…
foke joe one choek !!!
Hehehe
mari kita bikin jadi MANTAN GUBERNUR
di negeri sendiri kok mlh dijerat macem2..
saatnya revolusi..
ane wong suroboyo…tapi ane setuju kalo jakarta harus ada perubahan menjadi lebih baik…
OKE
Jakarta itu diawali dgn J bukan F…Pelat kendaraan jakarta itu pk B bukan N…
hahaha, Oke banget tuh, (tanpa “F”-uck)
g ada yg cocok …
Hanya satu cara memberi salam buat si F yaitu mengacungkan jari tengah tinggi tinggi
emang nyaman nongkrong di taman suropati….pohonnya rindang…tidak terlalu banyak kendaraan yg lalu lalang, so…serasa nyaman, jadi inget taman tugu malang…
ane butuh jakarta baru
bukan jakarta yang macet,kumuh dan miskin
daripada milih yang udah jelas2 gak membawa manfaat,lebih baik pilih yang dulunya pernah bermanfaat
COBA COBA HARUS DICOBA
ini dia yang salah, ketika pemerintah bikin suatu properti(taman, pasar, dsb) yang notabene pake dana publik, seharusnya tidak ada pembatasan/sekat, untuk menghalangi masyarakat umum menggunakannya dengan bertanggung jawab