Tujuh-Sebelas, Itukah Ruang Publik Remaja Urban?

27 09 2012

Hari ini ane terpana membaca ulasan bos (sebutan bagi alumni senior di Sipil ITB) Irendra Radjawali (Radja) di milis kuyasipil. Dalam ulasannya tersebut tampak jelas satu kata kunci yang ane turut garis bawahi yaitu konsumerisme. Well, saat ini pun pikiran ane tidak cukup kondusif untuk berpikir 100% menulis sebuah artikel, yah, masih di tengah jam kerja, namun pikiran ingin berontak. Larinya..ya ke blog saja deh.. :mrgreen:

Tampaknya tugas berat menanti Pak Jokowi dan Ahok dalam menata kota Jakarta. Pembangunan infrastruktur yang diklaim sebagai parameter keberhasilan sebuah kota (metropolitan) nampaknya telah memarjinalkan pembangunan psikologis kaum urban, well..setidaknya mereka yang beraktivitas di kota Jakarta ini.

Dalam ulasannya bos Radja menuliskan:

“Ngeri sekali kalau memang benar ‘observasi’ Michael Riady (CEO Lippo Mall) bahwa masyarakat Indonesia (perkotaan?) menginginkan mall sebagai tempat hiburan, sosial, kerja dan penyelenggaraan acara. Jika ‘hipotesis’ (atau jangan-jangan/mudah-mudahan ‘klaim’) ini dipotret dengan berbagai kacamata, saya kira mungkin akan bisa menjadi kajian menarik tentang ‘masyarakat perkotaan Indonesia’ yang mungkin menarik juga buat Pemerintahan Baru Jakarta di bawah Jokowi-Ahok (yang tentunya menarik juga buat para kapitalis).”

Kemudian bos Radja mencoba mendeskripsikan potret perkotaan sebagai berikut:

Potret pertama:

Dari kacamata sosiologi (umum) saya kira hipotesis (atau klaim) ini menyedihkan karena makna yang ditangkap adalah ‘masyarakat perkotaan di Indonesia’ memaknai hidup dengan mereduksinya sedemikian rupa dalam kegiatan-kegiatan yang konsumtif, bahkan ‘maaf’ intelektualitas ‘masyarakat perkotaan’ di’setir’ oleh nafsu-nafsu ‘konsumtif’ mereka yang dengan ‘cerdas’ ditangkap oleh ‘pebisnis’ yang senantiasa mengeluarkan ‘produk-produk baru’ yang sebetulnya tidak ‘terlalu dibutuhkan’ yang dipajang dalam ‘etalase-etalase’ indah di mall-mall di kota besar yang disusun sedemikian rupa sehingga nuansa-nuansa ‘palsu’ pun dihadirkan seperti mall dengan gaya ‘Eropa’ dsb (sekali lagi ‘dunia simulasi’ nya Jean Baudrillard). Betapa ‘penyakit sosial’ masyarakat yang berakar pada ‘konsumerisme’ begitu mengakar. 

Potret kedua:

Dari kacamata geografi dan juga ilmu tentang ‘common': mall merupakan sebuah ‘mass private property’ yang merupakan properti pribadi/ kelompok (bukan publik) yang dibangun sedemikian rupa dengan fitur-fiturnya yang kemudian membuatnya ‘terlihat’ seperti ruang publik. Pemilik memegang hak untuk mengeksklusi orang luar dari properti ini walau dalam prakteknya terlihat sebagai sebuah ruang publik pada umumnya yang bisa diakses oleh semua warga (Seharing and Wood, 2003). Segregasi ‘sosial’ dalam kota besar juga akan terjadi karena pada dasarnya yang ‘bekerja’ di mall-mall tersebut membutuhkan ‘support’ sosial-ekonomi sesuai dengan ‘gaji’ mereka (sebagai buruh pekerja) yang sejauh saya tahu tidak mencukupi untuk ‘beradaptasi’ dengan gaya hidup ‘mall’ dan tidak didukung oleh infrastruktur publik yang seyogyanya murah dan terjangkau (seperti transportasi), apa yang terjadi? Tidak heran di daerah-daerah ‘sekitar’ mall, tumbuh ruang-ruang ‘publik’ lain seperti ‘pangkalan ojek’, ‘warung-warung tegal’ dsb., walaupun ‘ghetto-ghetto’ tersebut tidak ‘dirancang’, tapi ‘logika sosial-ekonomi-politik’ yang neo-liberalistik menjadi ‘faktor pendorong’ tumbuhnya segregasi sosial tersebut. Tentunya dengan konsekuensi-konsekuensi sosial-ekonomi-politiknya akan mengikuti seperti ‘preman-preman penguasa wilayah’ dsb. Tatangan lain buat Jokowi dan Ahok , dan kita semua!

Potret ketiga:

Dari kacamata analisis kelas: Klaim (hipotesis?) tersebut memperkuat segregasi ‘kelas’ antara ‘kelas’ pemodal dan kelas ‘proletar’ / buruh (yang tidak semua terlihat seperti ‘buruh’ yang mungkin selama ini kita bayangkan). Pekerja-pekerja di ‘etalase-etalase mewah mall’ tersebut adalah ‘buruh-buruh’ yang ‘menjual’ tenaga kerja mereka kepada ‘korporasi’, sementara ‘buruh-buruh’ kerah putih lain menjadi ‘konsumen’ setia dari korporasi-korporasi yang senantiasa ‘membius’ dan mendorong konsumerisme dan menarik masyarakat untuk datang ke mall alih-alih menikmati taman-taman kota (yang masih ada), alih-alih untuk membicarakan ‘kualitas hidup perkotaan’ dengan sesama warga lain dan mencoba berbuat (tidak berhenti pada bicara saja). Buruh kerah putih tersebut menjadi ‘kelas menengah’ yang cukup sadar akan apa yang terjadi, tetapi sayangnya berhenti dalam berwacana yang difasilitasi oleh ‘Facebook’ , ‘twitter’ dsb. Partisipasi publik diwakili oleh ‘tombol like’ di Facebook. Salah satu tantangan lagi buat Jokowi dan Ahok , dan kita semua.

Di sini menariknya mengkaji kapitalisme, karena di adanya ‘tension’ antara memeberikan ‘harapan penghidupan’ di satu sisi (dengan membuka lapangan kerja dan sebagainya) dan di sisi lain mendorong adanya ketimpangan sosial-ekonomi serta disparitas. 

Hmmm..pertama-tama memang menarik untuk dicermati bagaimana cara bos Radja menuangkan pemikirannya secara sistematik ke dalam sebuah tulisan. Penting nih untuk blogger.

Kedua, apa yang beliau paparkan sedikit banyak are closer to life.. Semua mendekati kenyataan dan mulai terjadi di sekitar kita. ane sempitkan pandangan, dapat terlihat bagaimana setiap perempatan di sudut kota disulap menjadi “tempat tongkrongan” dengan label “convenient store” yang menjadi magnet bagi kaum muda.

Well, bukan berarti tempat tersebut terlarang bagi mereka, namun ane seolah merasa bahwa belum saatnya bagi remaja seperti mereka untuk beraktivitas di waktu dan tempat seperti itu.

Barangkali ini hanyalah pandangan kolot dari ane yang dibesarkan dengan norma-norma masa lalu. Namun cobalah diresapi, apakah rumah dan keluarga sudah tidak lagi menjadi tempat nongkrong yang menarik?

Kaum muda bukanlah sebuah fase untuk dilewati dengan bersenang-senang melulu, namun basis bagi fase berikutnya juga perlu dibangun di situ. Passion kaum muda terhadap seni, ilmu pengetahuan dan teknologi seharusnya dapat tersalurkan sejak dini, bukan begitu?

So, tujuh-sebelas..apakah itu ruang publikmu?

About these ads

Aksi

Information

28 responses

27 09 2012
ken39

kalo kata pepatah “life will find a way”… tiap jaman beda jalannya

27 09 2012
aru_kun

Good.

Ane baru bisa bilang “hmm..”

27 09 2012
fitready

tumben bahasanya cerdas, baru dibrasso kale nih otaknya, piss bro…

27 09 2012
fidelite

menurut ane, potret kedua bisa dibilang wajar, di mana pun di kota-kota besar dunia, selalu ada ghetto, sebagai tempat menetap para pekerja informal. biasanya pekerja di mal atau kantor pas jam istirahat makan siang butuh makanan, dan siapa lagi yang bisa menyediakan makanan, selain pedagang-pedagang informal di sekitar mal?

27 09 2012
ipanase

rung paham ( telmi :D )

27 09 2012
bleetzi

setuju dengan artikel ini. Fenomena Mall menjadi tempat rekreasi ini juga disebabkan karena faktor keamanan yang kurang terjaga di ruang publik terbuka. Belum lagi kurangnya fasilitas seperti toilet yang bersih di taman-taman. Jadi Mall dengan segala kenyamanannya menjadi pilihan untuk menghabiskan waktu

27 09 2012
redbike92

kali ini setuju deh ama oom Benny :D
4 jempol deh (2 tangan 2 kaki)
kapitalisme (yang biasa disebut pembangunan) memang sudah parah. Barang produksi udah melimpah dan gak laku di luar negeri, akhirnya di jual di negara2 berkembang lewat segala macam iklan dan marketing. Dengan marketing barang2 yang sebenarnya fungsinya tidak terlalu penting, bisa dijual mahal dan bisa jadi barang berkelas…

nah soal kebiasaan nongkrong remaja di tuju sebelas yang oom Benny kritik itu, memang itu kurang baik (kalau dilihat dari budaya Timur lho ya :mrgreen: ) tapi kan kebanyakan keluarga di kota kan ayah ibunya kerja dari pagi sampai malam. Terus di rumah anak2nya sama siapa? mau dididik kakek nenek juga kebanyakan kakek nenek udah gak serumah lagi. Akhirnya ABG ambek temen2nya seng senasib (ortu kerja) nongkrong aja di Tujuh 11 hehehe.
sorry oom komen kepanjangan hehehe :D

27 09 2012
bennythegreat

Bukan masalah budaya timur-utara dsb.
Tapi apa nilai tambah yang didapat dari kegiatan nongkrong selain hura-hura nan remeh-temeh..?

Mudah-mudaha pak Jokowi dan jajarannya dapat mengambil tindakan..

28 09 2012
bennythegreat

haha..emang biasanya enggak setuju sama ane ya bro.. :)

30 09 2012
redbike92

ya mungkin sedikit berbeda pendapat aja :D
hehehe

28 09 2012
milky bo

mending mall masbro,disini diskotek n karaoke bermunculan bak jamur…purel2 meluber…
ancur wez…

28 09 2012
biker0093

ijin share y om

28 09 2012
bennythegreat

monggo

28 09 2012
jokowi dodol (Susilo Bambang Yudhoyono, pencitraan, popularitas, buludomba wannabe) & foke kumishit (megawati sukarnoputri-negaraku yang mimpin ya aku wannabe)

yah, setau ane ruang terbuka uda ga nyaman lagi di sono, ga ada fasilitas untuk menyalurkan hasrat dan napsu para anak muda nan labil dalam mencari jatidirinya, berlaku konsumtif juga karena memang itu alternatif pelampiasan yang bisa mereka lihat,

pembukaan ruang publik yang baru dengan konsep yang ramah, serta kenyamanan keamanan, dan kebebasan berekspresi di calon tempat tersebutlah yang penting, sehingga anak muda bisa mencari jatidirinya di sono, tapi sayang, matanya uda ketutup bangunan kaya mall, dsb, harusnya di jakarta tidak ada lagi SMA dan SMP, jadi mereka suru hidup mandiri di tempat selain jakarta, kalo perlu di kampung biar mereka bisa nemuin jatidiri dan kesenanganya selain di malll

so far, kalo buat kebijakan frontal gitu, selain ga populer, dana serta pewujudanya sangat susah, paling enak sih biyaya masuk mall harus ada dan ga murah, kecuali mereka beli sesuatu dengan harga yang wow, sehingga frekuensi ke mall lebih bisa di bendung, tapi masalahnya kalo cuma di halangin dateng doank, terjadilah pelampiasan napsu yang lain, bisa jadi kaum homo dan kaum mesum banyak bertebaran karena napsunya untuk berekspresi dengan seni, teknologi, ilmu dll sudah di rampas, dan napsu konsumtifnya juga sudah di bendung, terakhir ya napsu binatang yang kerja

28 09 2012
Dani_250

itu abegeh yang kagak ada hobi, mending ngadem di mall, nah kalo anak doyan motor, pasti nongkrong / kelayapan di bengkel2, tongkrongan, tempat kopdar, dll.. hi hi hi sama aja yah?

28 09 2012
Gogo

begitulah, seolah kreatifitas n produktifitas gen mudah bangsa ini hrs terbuai oleh ilusi2 indah kapitalis dg sgl macam bntuk produknya.

29 09 2012
Mbah (‾ϖ‾) Dukun

Gw masih sering nongkrong di sevel berati gw (secara tampang) masih kayak Remaja :cool: CIHUY !!!! korting 10 taon !!!

29 09 2012
jaos_konsumen biasa

sip sip……….sepakat.
Masih muda juga semestinya udah belajar bgmana ‘bikin duit’ bukannya ‘menghabiskan duit’. Anak muda yg semakin lama masih belum ter-ekspos ke dunia konsumerisme via nongkrong2 di mall/gaya hidup urban, semakin tangguh ke depannya dalam menghadapi godaan konsumerism dan bijak soal duit + punya aset yg menghasilkan pemasukan.

29 09 2012
Bakul_Tralis

khan emang our education is mall and sinetron…plus sedikit tayangan kekerasan yg diulang-ulang
#brainwash alus

29 09 2012
Bakul_Tralis

lha emang our education is mall and sinetron plus a litlle violence show yg diulang-ulang….

1 10 2012
awakbiasa

setujuh bro…Ini karena penguasa (pemerintah+legislatif) yang g bs menyediakan fasilitas publik yang layak bagi semua lapisan rakyatnya…selamat datang di negeri kapitalis

1 10 2012
brigade15

mendingan ke situ daripada ke diskotik :D http://brigade15.wordpress.com/

2 10 2012
anak_kecil

kabeh ki, balik maning marang wong tuwane dewe-dewe… IMHO

5 10 2012
bianglala

nah ini saya setuju,,,,kita ga bisa ngandelin kebijakan pemerintah ato apa lah,,,kita harus bisa membuat arus sendiri. terutama para orang tua klo bisa mendidik anak dgn bnar pastinya mereka ga bakalan bgto,,,karna orang yg terdidik dgn bnar pasti tau apakah suatu hal itu bermanfaat atau ga,,,

5 10 2012
joko

sini gak ada mall, tempat karaoke berdalih “karaoke keluarga” malah berjamur, kalo malam ada ladies partynya wooohhh karaoke keluarga yg joss

5 10 2012
bianglala

masih bagus klo nongkrongnya sore ato sekitar maghrib,,,lha ini di daerah saya kos,,anak kecil jem 11, 12 mlm masih kluyuran,,,di mna pengawasan orang tua,,kan logikanya ga mngkin jem sgto orang tua msih kerja,,,

8 10 2012
haryudh4

untungnya ane sangat jarang sekali main2 ke tempat itu, kecuali terpaksa diajak temen buat kerjain tugas.. maklum gak punya duit, lebih sering tidur dan melotot ke pc di rumah aja.. irit gak buang2 uang, lumayan buat beli shell mingguan si motor :)

11 10 2012
C5W

mantap tulisan ente…emang jaman sekarang tuh anak2 lebih terekspos ama dunia konsumerisme..tinggal tergantung orang tuanya bisa ngarahin anak2nya ke kegiatan yang lebih membangun dari sekedar jalan2 ke mal…olahraga kek, musik kek…apa kek….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.862 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: