Dream Theater Nite with The Miracle, Hard Rock Cafe Jakarta

26 01 2009

idtfclogo4Sudah 1 bulan lamanya sejak kabar berhembus dari beberapa kawan di milis i-rock@googlegroups.com bahwa akan diadakan Dream Theater Nite yang kali ini bertempat di Hard Rock Café Jakarta (HRC) dan diisi oleh band progressive rock papan atas Indonesia yaitu The Miracle (TheM).

Berbagai komentar muncul seputar acara ini, terutama dari member milis yang pro progressive rock. Mulai dari saran danmasukan playlist yang akan dimainkan, hingga pertanyaan sepele seperti “bolehkah masuk HRC pakai sandal jepit?”

Flashback sejenak…

Teringat di bulan Mei tahun lalu, pertama kali saya mengadakan “Close Encounter” kepada TheM melalui drummernya yang katanya tampan dan digemari banyak wanita (hehehe), dengan tujuan mengundang mereka untuk mengisi acara “Awakening of the Wolves” yaitu ulang tahun Pulsarian Community yang pertama. Saat itu yang ada di pikiran saya adalah bagaimana caranya agar acara ulang tahun ini TIDAK DIISI oleh music ajeb-ajeb seperti yang diputar di diskotik itu. Mengingat Bajaj Pulsar identik dengan motor yang memiliki terobosan baru, maka sya pikir progressive rock adalah music yang tepat sebagai simbolisasi terobosan teknologi yang lain dari yang lain.

Oke cukup dulu bicara otomotif, sekarang kembali ke musik.

Adalah bro Reza yang bernama lengkap Mahareza Muzanto yang pertama kali saya kontak, dan permintaan saya disanggupi dengan permintaan tambahan, saya ingin melihat mereka latihan. Singkat cerita “nyemplunglah” saya kembali ke dunia music yang sudah cukup lama ditinggalkan. Raungan gitar dari multi effect, dan kali ini ditambah keyboard dan amplifier cukup membuat bulu kuduk merinding mengingat zaman SMU saya yang penuh dengan pengalaman bermusik.

cover_the_miracle_themTheM adalah:

Reza – Drum

Yessy – Keyboard

Faisal – Gitar

Chemi – Vokal

Vedy – Bass

Mendengar sekali mereka melakukan gig di salah satu sekolah di Jakarta dan di Viki Sianipar Music Center sudah cukup untuk membuat saya merindukan odd tempo dan teknik permainan nan melodius. Itulah progressive rock, Sebuah karya seni yang menurut saya tidak bisa dimainkan oleh sembarang orang dan tentu saja tidak bisa didengarkan oleh sembarang telinga.

dsc00268dsc00276dsc00275TheM biasa latihan di sebuah studio di kawasan Pejaten, disinilah saya mengikuti mereka latihan dan menyaksikan langsung skill tingkat tinggi yang mereka tunjukkan.

Di latihan kedua, saya didaulat untuk memainkan solo gitar “The Spirit Carries On” sebuah hit dari album Dream Theater paling fenomenal yaitu “Scenes from a Memory” yang terbit di tahun 1999. Setelah melalui proses “ngulik” dan pelemasan jari-jari yang sudah kaku ini selesai, akhirlah sukseslah saya mengisi permainan gitar di hit tersebut, ditambah nasihat dari mbah Faisal “jangan lupa berlatih lagi di rumah ya nak..”

me-playing-with-the-miracle2me-playing-with-the-miracle-32

Jadilah saya naik panggung di acara ulang tahun Pulsarian Community, sebuah kesempatan yang langka bisa “nge-jam” bersama TheM.

Back to the present…

H-1 saya masih bingung mencari kamera yang “ketlisut” alias nyelip entah dimana, mungkin di kantor. Namun sesuai saran yayang, saya kemudian meminjam HP milik adik yang kualitas kameranya lebih baik dari PDA saya. Jadilah saya datang ke DT Nite dengan hanya bersenjatakan kamera 2 Megapixel dari handphone, ya tidak mengapa lah, nanti juga bisa nodong hasil foto dari kawan IDTFC (Indonesian Dream Theater Fans Club) atau kawan I-Rock. Sambil iseng isi status di Facebook “mengharapkan Hollow Years versi Live in Budokan dibawakan TheM malam ini”.

Saya dan yayang yang datang jam 7 ini ternyata kepagian, HRC masih kosong sehingga kami berdua bisa mendapatkan PW (Posisi Wuenak) di bangku tinggi di sebelah kanan panggung.

Acara dimulai…

Anda menggebrak dengan beberapa hit yang menurut saya kurang nyambung dengan tema “Progressive Rock Nite” ya boleh lah sebagai band pembuka.

Setelah jeda beberapa kuis dan canda dari kedua MC yang cukup kocak, akhirnya TheM naik panggung dan terdengarlah detak jam yang khas dari hit pertama dari album “Scenes from a Memory” yaitu

“Regression”

“…close your eyes and begin to relax..” sebuah intro yang sangat menenangkan jiwa yang sedang kalut. Kemudian disambung dengan “Overture 1928”, inilah hit DT yang pertama kali harus saya pelajari tablaturnya dalam semalam di acara PenSi di zaman kuliah dulu…hehehe

semikian disambung dengan “Through Her Eyes”, “Fatal Tragedy”, “Home”, “One Last Time”.

dsc00667Di awal “The Dance of Eternity” Yessy sempat berkata “Doakan kami ya teman-teman…” dengan wajah memelas dan setengah tertawa. Rupanya inilah tantangan terbesar TheM yang sempat saya intip di status Faisal dan Reza di Facebook. Harmonisasi keyboard dan gitar bertempo cepat, diisi dengan solo bass dahsyat ala John Myung dan ketukan ganjil dengan frekuensi cukup tinggi membuat hit ini sangat sulit untuk dimainkan. Namun Faisal dan Yessy tampak sangat akur memainkan harmonisasi solo tersebut dan Vedy tampak teliti melakukan solo bass yang mengandung tapping dan sweeping. kemudian disambung dengan “The Spirit Carries On” versi Live in Budokan untuk almarhum Robin “Noxa” Hutagaol dan ditutup dengan solo drum dari Reza.

dsc00662

Di session pertama penampilan TheM ini, saya melihat beberapa kesalahan minor di beberapa hit, mungkin karena mereka masih kaku dan butuh sedikit pemanasan.

Jeda diantara session…

Kedua MC kocak yang saya tidak ketahui namanya itu mengadakan kuis berhadiah CD dan tiket nonton Lamb of God (LOG)..woow cukup menggiurkan, tapi saya pass saja deh, karena tidak begitu familiar dengan LOG.

Kuis yang cukup mengocok perut adalah ketika penonton yang mengajukan diri ke panggung diminta melakukan atraksi “Air Guitar” yaitu berpura-pura memainkan gitar diiringi hit pilihan mereka sambil head banging..hehehe, lucu juga tingkah kawan-kawan dari IDTFC ini, ada yang tampangnya kalem, tapi kelakuan beringas dan ada yang tampangnya beringas tapi sempat terpeleset ketika head banging.

Di jeda ini juga terdapat seorang kawan yang menjadikan punggung si MC sebagai keyboard dan melakukan air keyboard yang membuatnya sukses mengantongi tiket LOG

Session kedua…

dsc00688

Dibuka kembali dengan “Ytse Jam” yang tadinya saya kira “Instrumedley” ala Live in Budokan, lanjut lagi dengan hit dari album lawas seperti “A Change of Season”. Di hit ini, bagian solo bass diisi Vedy dengan nada berbau oriental sambil berteriak “Gong XI Fa Cai…!” dan solo keyboard diisi nada yang sama oleh Yessy. Hehehe..sisi-sisi jahil dari Mike Portnoy ternyata menular ke mereka.

dsc00658Kejutan…!

Chemmy tiba-tiba mengajak penonton bernyanyi bersama, sayup-sayup Yessy membuka chord D minor secara lirih dan Faisal memainkan intro hit yang bisa membuat saya menangis..ya saya bisa menangis setiap menonton DVD Live in Budokan atau memainkan gitar mengikuti John Petrucci di hit tersebut..entah mengapa. Status Facebook saya terkabul, malam itu jiwa saya dibuai indah dengan “Hollow Years”.

Benar-benar malam yang tidak terlupakan, bernyanyi bersama, memeluk yayang dari belakang dan akhirnya ketika Faisal memainkan solo gitar, saya merasakan kehangatan menyelimuti saya. Sejenak saya memejamkan mata, mengucap syukur kepada Allah SWT atas nikmat yang telah begitu banyak saya peroleh. Begitu hebatnya hit ini membuai dan mengaduk-aduk emosi saya. Usai terbuai dengan melodi indah dengan effect clear acoustic guitar, Faisal meraungkan Ibaneznya menuju session distorsi dan alternate picking dari solo gitar “Hollow Years”. Tiba-tiba “state of grace” itu lenyap dan mendadak berganti dengan..entah apa namanya, semangat atau energy besar yang membakar perasaan saya. Mungkin “the unexplainable thing” inilah yang membuat saya memiliki ikatan batin dan energy setiap selesai mendengarkan “Hollow Years” versi Live in Budokan.

dsc00674

Beberapa hit dari album baru seperti “Train of Thoughts” dan “Systematic Chaos” turut dimainkan oleh TheM, bahkan hit favorit saya dari “Systematic Chaos” yaitu “Constant Motion” turut dimainkan secara sempurna. Usai hit bernuansa “gelap”, kami diajak bergembira bersama “I Walk Beside You”, “Solitary Shell” dan “The Silent Man” versi Live from New York dengan sesekali Chemy dan Vedy melemparkan angpaw ke penonton.

Acara “Forbidden City Rocks – A Dream Theater Nite” ditutup dengan hit “Metropolis”. Di sini saya kembali memperoleh “kehangatan” ketika menyanyikan liriknya…

Before the leave has fallen,

Before we locked the door

There must be a third and last dance

This one will last forever

Metropolis watches and thoughtfully smiles

She taking you to your home

It can only take place

When the struggle between our children has ended

Now The Miracle and The Sleeper know

That the third is love

Love is the dance of eternity

dsc00692Usai menyalami seluruh personel TheM, terutama Chemy yang terlihat semakin subur, saya pun kembali pulang dan menulis review ini ditemani segelas teh hangat untuk menyegarkan tenggorokan yang serak dan tentunya…”Hollow Years” versi Live in Budokan.

Ditunggu di Progressive Rock Nite berikutnya.








%d blogger menyukai ini: