Star Trek : The Future Begins

18 06 2009

Terlalu ringan…!

Itulah kesan yang ane dapat setelah menonton “Star Trek” hari ini di Djakarta Theater studio 1.

Sebagai Trekker sejati semasa SMP sampai SMU, ane udah terbiasa mengikuti serial televisi “Star Trek : The Next Generation” sehingga mungkin tidak akan kaget mendengar istilah “warp”, “tachyon”, “evasive maneuver”, “photon torpedo”, “tachyon” dan lain lain.

Namun apa yang ane dapat dari prekuel Star Trek ini? Mari ane ceritakan.

Kisah dimulai dengan situasi di USS Kelvin, armada starfleet dengan konfigurasi nacelle vertikal yang terdampar di dekat bintang. USS Kelvin kemudian bertemu dengan kapal Romulan yang baru saja datang dari lubang hitam. Tanpa disangka, kapal Romulan ini langsung melakukan hostile action dengan menembakkan beberapa photon torpedo yang menghancurkan beberapa bagian.

Dalam keadaan darurat itu, sang kapten yang diminta untuk berunding dengan Romulan, sebelum pergi menyerahkan posisi kapten kepada number one, yaitu George Kirk yang akhirnya tewas secara heroik dengan menabrakkan USS Kelvin ke kapal Romulan tersebut. Di saat yang sama, ia telah berjasa menyelamatkan 800 awak kapal yang berhasil menyelamatkan diri dengan shuttle-shutle, termasuk di salah satunya adalah sang istri yang baru saja melahirkan seorang anak tepat di menit-menit terakhir sebelum sang ayah tewas. Atas diskusi kilat orang tuanya, anak tersebut dinamai James Tiberius Kirk. James adalah nama kakek dari George, sementara Tiberius adalah ayah George. Sungguh berkesan bagaimana nama ini diturunkan karena tadinya sang ayah merasa konyol untuk menempatkan nama Tiberius di depan.

Jim kecil tumbuh sampai remaja, demikian panggilan singkatnya tumbuh menjadi remaja yang cerdas dan sekaligus nekat. Dikisahkan ia gemar menantang bahaya dengan ngebut naik mobil dan pada akhirnya mengalami keributan dengan beberapa kadet Starfleet di sebuah bar. Saat itulah jiwa playboy Jim mempertemukannya dengan Nyota Uhura.

Selesai berkelahi melawan 4 orang kadet Starfleet, ia bertemu dengan Capt. Pike, seorang yang mengetahui sepak terjang ayah Jim dan meneliti penyebab kematiannya. Ia serta merta memotivasi Jim untuk bergabung dengan Starfleet. “Ayahmu sempat menjadi Captain selama 12 menit dan menyelamatkan nyawa 800 orang, saya yakin kamu bisa lebih baik dari itu” demikian tantang Capt. Pike.

Dalam perjalanan menuju lokasi pelatihan, Jim bertemu dengan McCoy yang nantinya akan menjadi Medical Officernya.

Di saat yang sama, di planet Vulcan dikisahkan pula tentang Spock. Ayahnya berasal dari planet Vulcan, sementara ibunya dari bumi. Bangsa Vulcan menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan logika. Ayah Spock bahkan mengajarkan agar logika dapat mengendalikan emosi. Terlihat Spock sejak kecil tidak mungkin menyembunyikan emosinya, meskipun logikanya sangat terlatih.

Lulus dari Kolinahr dengan sangat memuaskan, yaitu masa pendidikan Vulcan, Spock diminta untuk bergabung dengan semacam perkumpulan pengetahuan, namun Spock menolaknya karena ia telah mendaftar sebagai kadet Starfleet.

Kembali ke kisah Jim. Selama masa pendidikan, Jim adalah remaja yang cerdas sekaligus nakal. Ia gemar mengencani kawan sekamar Uhura namun juga berhasil mengalahkan Spock dalam ujian simulasi tempur “Kobayashi Maru” yang rekornya selama ini dipegang oleh Spock.

Singkat cerita, seluruh kadet ditugaskan ke masing-masing armada Starfleet untuk membantu sebuah kapal Starfleet yang terdesak. Spock dan Uhura yang sepertinya terlibat kisah cinta, ternyata terpilih mengawaki USS Enterprise, sebuah armada baru Starfleet dengan nomor helm NCC-1701. Di kapal ini mereka bergabung dengan pilot bernama Sulu yang jago beladiri pedang dan Chekov yang berlogat Rusia dan menggelikan. Mereka dikomandoi oleh Capt. Pike. Bagaimana dengan Jim? Untuk bergabung dengan USS Enterprise, ia terpaksa diracuni dengan sengaja oleh McCoy sehingga terlihat sakit dan dapat masuk ke Enterprise.

Di sinilah konflik dimulai. Jim yang mengetahui bahwa lokasi tujuan ketujuh armada Starfleet yaitu planet Vulcan setelah dianalisa oleh Chekov memiliki gejala yang sama seperti saat dimana ayah Jim tewas. Jim yang salah diobati hingga tangan dan lidahnya bengkak mencoba memperingatkan Uhura dan Spock, namun Spock menganggap pernyataan Jim tidak berdasar.

Setelah diketahui bahwa ternyata prediksi Jim benar dan terjadi adegan seru yang diakhiri dengan dihancurkannya planet Vulcan dan kematian ibu Spock, konflik Jim-Spock semakin meruncing dengan dibuangnya Jim ke planet Vega, dekat planet Vulcan.

Di planet ini Jim menghadang bahaya dari makhluk planet tersebut yang mempertemukannya dengan Spock dari masa depan. Setelah melakukan “sinkronisasi pikiran” ala Vulcan (session ini tidak boleh dilewatkan karena bagian penjelas alur cerita), mereka menghampiri basecamp Starfleet di planet tersebut untuk menemui Montgomery Scott aias Scotty, seorang ilmuwan penemu transporter. Setelah Spock dari masa depan “memperbaiki” hasil hitungan Scotty, Spock memerintahkan Jim dan Scotty untuk ditransport kembali ke USS Enterprise yang sedang melaju dengan warpdrive ke sistem Laurentian. Hal ini tentu saja mengejutkan Spock muda, karena saat itu teknologi transporter belum secanggih itu.

Jim yang telah mendapat wangsit dari Spock tua dari masa depan berhasil menggeser Spock dari posisi Captain. Mereka kemudian memutuskan berbalik mengejar kapal Romulan itu dan menyelamatkan Capt. Pike.

Romulan yang memiliki kesamaan nenek moyang dengan bangsa Vulcan itu ternyata berasal dari masa depan, dimana mereka kembali ke masa lalu dengan niat membalas dendam kepada Spock yang dianggap menghancurkan planet Romulus dengan Red Matter, sebuah teknologi penemuan bangsa Vulcan.

Pertempuran seru terjadi di dalam kapal Romulan, karena Nero sang kapten kapal berniat menghancurkan bumi.

Mendekati bagian klimaks, film ini diwarnai adegan perang photon torpedo dan phaser antar pesawat.

Selanjutnya silakan dilihat sendiri ya. Hehehe..

Nah sekarang komentarnya.

Akting duo Chris Pine dan Zachary Quinto sebagai tokoh sentral sangat emosional dan dalam,terlihat pula sebab mengapa ada ikatan emosional antara awak USS enterprise sejak awal.

Dari sisi alur cerita juga sangat menarik karena dibumbui dengan kisah paradoksal dan alternate reality yang tentu saja dapat membuka mata penonton atas fenomena sains ini.

Dari sisi fiksi ilmiah..nah ini dia. Setelah rajin mengikuti berbagai serial Star Trek dari mulai “No One Has Gone Before”, “The Next Generation”, “Voyager”, “Deep Space Nine”, “Nemesis”, dan lainnya. Muatan dan eksposure sains di prekuel ini terasa terlalu ringan, sejak wajah khas Romulan Capt. Nero muncul pertama kali di awal film, pasti para Trekker sudah dapat menebak-nebak alur ceritanya, demikian pula ketika black hole (di beberapa serial disebut “worm hole” dikisahkan bahwa lubang hitam ini dapat dengan sengaja dibuat untuk memperpendek jarak tempuh) . Sedangkan mungkin para Trekker berharap adanya tech dan terms baru. Mungkin JJ Abrams sebagai sutradara ingin “memperluas pasar” dengan membuat film ini menarik bagi remaja dan segala kalangan.

Overall bagi ane film ini lebih berat disebut action-fiction ketimbang science-fiction.

Sekali lagi..”Terlalu Ringan” namun cukuplah membuat para Trekker bernostalgia dengan kutipan khas Capt. Kirk yang diucapkan oleh Spock di akhir film (ane hapal ini sejak pertama kali lihat The Next Generation).

“Space… The final frontier. These are the voyages of the starship Enterprise. It’s continuing mission, to explore strange new worlds. To seek out new life and new civilizations. To boldly go where no one has gone before..”


Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: