Ketika Surakarta Memanggilku

14 08 2009

Berapa banyak populasi orang keturunan Surakarta (selanjutnya disebut Solo), di Jakarta?
ane yakin banyak sekali, beberapa tampak sukses mengadu nasib di kejamnya ibukota ini,
sementara beberapa lainnya harus rela mengadu nasib dengan cara lain.

Ada beberapa alasan ane menulis artikel ini, diantaranya karena memang ane memiliki orang tua yang keduanya adalah orang asli Solo,
dan beberapa hal yang memang mengusik diri ini tentang asal-usul keturunan ane di Solo sana.

Alasan lain yang sangat menggugah baru ane temukan ketika ane berkumpul bersama kawan-kawan Pulsarian di Roti Bakar Edy Jl. Raden Patah.
Ketika ane sedang asyik bercengkerama dan menikmati makanan, ane mendengar lantunan lagu khas Solo yang nada dan baitnya tak asing.

Ya, rupanya diri ini masih sangat familiar terhadap lagu tersebut yang pernah ane dengar di masa kecil ane, meskipun tak tahu lagunya tapi ane memiliki feel bahwa lagu tersebut adalah alunan nada khas Solo.
Semakin didengar, lagu tersebut semakin membuat ane bergidik. Betapa lagu tersebut mengingatkan ane bahwa ane adalah keturunan Solo. Entah apa yang ane rasa tersebut, mungkin campuran antara senang, sedih, bangga atau terharu.

Suara tersebut dilantunkan oleh seorang bapak paruh baya yang mengenakan baju tradisional Jawa Tengah, tampak ia beringsut dari satu meja ke meja lainnya untuk menyanyikan lagu khas Solo tersebut.
Tak ada raut bersedih di muka bapak itu, hanya kenikmatan yang sepertinya ia dapatkan dengan memainkan alat musik berbentuk kotak dan bersenar.

Rasa iba segera menyelimuti dan ane memberikan uang ala kadarnya kepada bapak itu ketika ia selesai menyanyi.
Dorongan dari dalam diri membuat ane bertanya dengan bahasa Jawa yang sedikit kasar. “Pak, opo bapak seko Solo?”
Bapak itu menjawab “nggih pak, kulo ingkang Solo”. Selanjutnya ane gak bisa berkata-kata lagi, bukan karena vocabulary bahasa Jawa ane terbatas, tapi karena memang tak tahu hendak berkata apa.

Beberapa minggu kemudian..

Bapak Pelantun Tembang Khas Solo

Minggu pagi yang cerah, ane bersama yayang janjian untuk sarapan bersama di Bubur Ayam Super Lakers, Menteng
ketika hampir selesai makan, alunan lagu berbeda namun memiliki “feel” yang sama terdengar..Segera ane mendongakkan kepala untuk mencari sumber suara tersebut.
Kali ini seorang bapak yang lebih muda dari bapak yang ane temui sebelumnya tampak beringsut dari satu meja ke meja yang lain untuk mengalunkan lagu khas Solo itu.
Lagi-lagi tak ada raut sedih atau susah di wajahnya..hanya senyum dan kenikmatan ketika melantunkan bait demi bait lagu tersebut dengan alat musik kotak bersenar itu.

Perasaan yang sama menghinggapi lagi diri ini..usai ia bernyanyi di meja tempat ane, ane beri ia uang sekadarnya. Bapak itu berucap “Maturnuwun mas..”
dan segera berlalu, Ia kemudian duduk di dekat pintu keluar sambil menyetel dawai alat musiknya. Tampak beberapa anak kecil menggodanya karena ingin tahu apa yang ia lakukan.
Kali ini ane segera bangkit dan menghampiri bapak itu dan berjongkok di depannya.

“Bapak seko Solo nggih?” dan iya jawab “Nggih mas..”

Selanjutnya karena ane tidak terlalu fasih seperti ayah ane yang sangat mendalami kebudayaan Jawa, ane tuliskan saja bahwa ia berasal dari Nonongan, sebuah daerah di Solo.
Ia menceritakan bahwa mengamen di Jakarta tidak lebih baik ketimbang di Solo.

“Di Solo saya bisa mengamen di beberapa tempat, karena ongkos bis murah, sementara di Jakarta baru 3x ganti angkutan umum saja sudah habis Rp 5000”, begitu katanya dengan lemah lembut.
Usai ngobrol, ane tawari ia untuk pesan makanan. Awalnya ia menolak namun ane terus memaksa. “Pesan saja apapun yang bapak suka, nanti saya yang bayar”, begitu kata ane.

Dan ia pun memesan sepiring nasi gudeg dan es teh manis..

Selagi memperhatikan ia makan, ane ngobrol dengan yayang, tapi pikiran ini masih memikirkan runtutan kejadian yang ane alami. Ada apa dengan Surakarta? Ada apa dengan Solo?
Mengapa orang-orang ini harus terjebak arus urbanisasi dan harus mengadu nasib di Jakarta? Tak cukupkah lapangan pekerjaan di sana? Sudah sedemikian berubahkah Surakarta kini?

Pertanyaan itu begitu mengusik pikiran ane sampai sekarang. Mungkin sudah saatnya ane kembali ke Surakarta untuk bertemu kembali dengan bagian diri ini yang tertinggal di sana. Untuk “nyekar” ke makam Mbah Kakung dan Mbah Putri dan melepas rindu sebelum ane bertemu bulan Ramadhan.

Tak lupa ane mengucap Salam untuk saudara dan seluruh warga asli Surakarta dimanapun kalian berada.


Aksi

Information

3 responses

21 08 2009
Bedjo HMPC JKT

Salam kenal Bro Benny…
Aku juga wong Solo (mojosongo , Jebres) yg cari makan di JKT, semoga ada jalinan jodoh mempertemukan kiita…
ada ide ga bikin komunitas biker perantauan Solo

21 08 2009
bennythegreat

Salam kenal bro Bedjo, setahu ane ada banyak sekali bikers yang asli orang solo, coba sampeyan gabung ke milis jokealabikers@googlegroups.com

jangan lupa ajak temen2 yaa..

maturnuwun

15 07 2010
Maskur®

aku 5 tahun di solo, serasa rumah ke 2

teman2 kuliah juga banyak yang di jakarta.

Halah juragan wajan bolic juga wong solo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: