Penegakan Hukum Lalu-lintas, Niatnya Apa?

2 11 2009

Highway Patrol

Sewaktu break session di Safety Riding Clinic JDDC hari Minggu kemarin, ane sempat ngobrol dengan bro Guruh, salah satu peserta.

Obrolan makin hangat kala bro Jusri mengangkat topik sosialisasi Undang-Undang no.22 tahun 2009. Diskusi berkembang dan salah satu point yang ane dengar dari bro Guruh adalah sharing pengalaman berlalu-lintasnya sewaktu ia tinggal di Amerika.

Di Amerika, sistem manajemen lalu-lintasnya sudah baik. Pengalamannya sewaktu pertama kali diberhentikan Polantas (Highway Patrol) ia merasa deg-degan, namun ternyata Pak Polantas hanya menegur dan mencatat plat nomor kendaraan saya karena overspeed. Pelanggaran kedua kembali ia lakukan dua minggu kemudian dan lagi-lagi mendapatkan teguran.

Saat mendapatkan teguran kedua itu, Pak Polantas menegaskan bahwa ia sudah melanggar peraturan lalu-lintas yaitu overspeed sebanyak dua kali. Ternyata data pelanggaran kendaraan sudah tercatat secara online. Bro Guruh pun mendapat ultimatum dari Pak Polantas bahwa jika sekali lagi ia melakukan pelanggaran overspeeding, maka SIM akan dicabut dan ia harus mengikuti driving course kembali selama dua hari berturut-turut.

Hal menarik yang ane ambil dari kisah bro Guruh ini adalah sebagai berikut:

– Manajemen “law enforcement” di Amerika sudah sangat maju.
– Setiap pelanggaran akan mendapatkan dua kali teguran, pada teguran yang ketiga maka konsekuensi berlaku.
– Pada setiap pelanggaran, pengguna jalan akan mendapatkan kesempatan untuk belajar dari kesalahannya.
– Terdapat fungsi edukasi yang dilakukan oleh aparat terhadap pelanggar lalu-lintas.

Dari kisah singkat ini kemudian ane bandingkan dengan kenyataan di Indonesia, terutama ketika sosialisasi Undang-undang no.22/2009 sedang hangat-hangatnya.

Mengapa pembuat undang-undang dan instansi terkait tidak memikirkan edukasi terhadap pengguna jalan dan hanya memikirkan sebab-akibat dan pelanggaran-denda?

Seharusnya instansi terkait pembuat, pelaksana dan penegak hukum lalu-lintas dapat belajar dari negara lain yang lebih maju.








%d blogger menyukai ini: