Sikap PERMISIF dan IGNORANCE dalam Berkendara

9 12 2009
Masalah yang muncul dari ketidak lengkapan data dalam hal ini UU dan PP lalu-lintas (contoh: UU no.22 tahun 2009) adalah terbukanya ruang untuk interpretasi. Dan interpretasi akan memiliki beragam bentuk sesuai dengan sudut pandang si pemberi penafsiran. Inilah sebabnya mengapa dalam banyak kasus, persepsi atau penafsiran orang-perorang bisa berbeda 180 derajat, tergantung interpretasi masing-masing pihak.

penggunaan asesoris yang menyimpang

Kedua sisi tentunya mengutamakan pengetahuan dan familiarity-nya atas kejadian yang bersangkutan dengan UU maupun PP tersebut, mana yang dirasa lebih familiar dan bisa diterima oleh disiplin pemikirannya, maupun lingkungan tempat ia bersosialisasi dengan komunitas otomotifnya maka itulah yang diterima. Bagi mereka yang skeptics dalam arti negatif, atau malah mendedikasikan diri untuk menjadi “rules breaker” maka ia akan senantiasa mencari argumen  dan celah dari UU ini. inilah dasar dari sikap IGNORANCE atau ketidak pedulian. Hal ini dapat dengan mudah dilihat sehari-hari di jalanan ibukota. Dari mulai cara berkendara yang tidak wajar, sampai penggunaan asesoris di kendaraan yang seharusnya tidak boleh dipergunakan oleh warga sipil yang tidak berhak.

penggunaan asesoris yang berlebihan

penyimpangan cara berkendara

penyimpangan cara berkendara

Di sisi lain, dengan beragamnya informasi tentang interpretasi yang diketahui, baik yang bersifat fakta maupun opini maka seorang pengguna jalan bisa juga terlalu cepat melompat kepada kesimpulan prematur. Dan bagi seorang pemula (beginner) atau orang yang baru bergabung di komunitas otomotif, atau orang yang baru mulai memakai kendaraan, malah tak jarang informasi yang masuk kemudian diolah seadanya, kemudian jika terlihat ada celah untuk menyimpang, walaupun hanya sedikit, maka kesimpulan akhirnya pun adalah justifikasi mengenai kebenaran tindakannya.

balapan liar, salah satu penyimpangan ekstrim berkendara

penyimpangan ekstrim cara berkendara

Jadi jika para “rules follower” atau pro-rules cenderung merajut dan saling mengaitkan pasal demi pasal mengenai UU lalu-lintas dan tata-cara berkendara aman lainnya untuk mencapai “riding perfection”, maka seorang beginner bisa jadi bersikap kebalikannya; cenderung mengabaikan dan/atau mencari kelemahan UU untuk mendukung dan menjustifikasi tindakannya. Dua-duanya sama-sama berada di sisi yang ekstrim.

Siapa yang benar? Tidak bisa dipukul rata, tapi yang pasti extrimisme cenderung membutakan, baik yang pro maupun kontra.

Sayangnya, masalah utama dalam banyak kasus penyimpangan berkendara adalah lagi-lagi sikap PERMISIF aparat dan sudah pasti berujung kepada IGNORANCE pengguna jalan, sehingga baik pihak pro-rules maupun kontra-rules sama-sama menitik beratkan pendapatnya pada interpretasi.

Jadi, anda termasuk golongan yang mana?








%d blogger menyukai ini: