Moge Wannabe..Apaan Sih?

4 03 2010

Bebek di Pantat, Moge di Kepala..!

Moge Wannabe..

Istilah yang tanpa sengaja terlontar dari mulut ane sekitar setahun yang lalu  ini menjadi bahan tertawaan.. waktu itu ane dan beberapa kawan di Taman Suropati sedang membahas kelakuan pengendara motor di jalanan Jakarta. setelah googling pun ane menemukan artikel berikut yang cukup menggelikan.

Ya mungkin karena kebetulan otak ane sedang mencari padanan frase yang pas untuk mewakili penunggangan sepeda motor yang berkelakuan sebagai berikut.

  • sudah tahu motornya kecil, well kecil itu relatif pastinya.. katakanlah dibawah 150 cc tapi kenalpotnya diganti super berisik..pernah ane tanya sebabnya, jawab si pemilik “agar kedengeran kayak motor gede pak”…reaksi ane: ckckckck..Segitunya bro..
  • mendandani motornya dengan maksud agar terlihat gede, bukan dengan maksud fungsional tapi lebih kepada maksud agar dilihat orang. Contohnya mengganti ban dan velg motornya dengan limbah moge atau memasang box gede kiri kanan atas. Tidak ada yang salah memang, mengganti ban dan velg dengan ukuran besar dapat membuat motor lebih “ganteng” tapi ya..tetap saja cc mesin tidak berubah..he he..
  • gemar memamerkan foto diri di atas moge yang bukan miliknya. Orang seperti ini sering ane jumpai, termasuk ane sendiri..duluuu…sebelum memiliki moge. hehehe. Narsis boleh saja, tapi kalau dipamerkan secara berlebihan bahkan mengklaim seakan-akan moge tersebut miliknya, nah ini yang layak disebut moge wannabe.
  • gemar membuntuti moge di jalan, nah ini juga..moge wannabe juga menjalar ke aksi motorik seperti ini. tak jarang motor-motor kecil dengan sengaja membuntuti dan menempel ketat sebuah moge yang melintas.
  • mengendarai motor dengan kecepatan dan putaran mesin tak wajar. Pernah dengar kata sruntulan? he he he..Kata yang ane dengar dari bro Sontul, salah satu pendiri HORNET (Honda Riders On The Net) ini sangat mewakili gaya bermotor di atas. Ibarat memaksa seekor keledai untuk berlari secepat kuda arab, memaksakan kecepatan dan RPM motor melebihi kemampuannya membuat motor berteriak…”Woi..kalau mau torsi & power gede ganti motor aja luuu…!”
  • memiliki moge tanpa surat-surat lengkap (STNK=BPKB). hehehe, ane pernah seperti ini nih dan trust me..sangat-sangat tidak nyaman berkendara dengan moge bodong, cek posting ane sebelumnya di sini. oleh karena itu tahun ini ane memilih menjual moge bodong tersebut dan membeli motor yang legal..UU no.22 tahun 2009 sudah diberlakukan, mari taati bro!

Mengapa fenomena moge wannabe terjadi?

Kesalahan tidak seluruhnya pada konsumen sepeda motor, namun perlu dicermati pula para produsen sepeda motor di Indonesia yang ane nilai sangat pelit melakukan inovasi terhadap produknya. Coba lihatlah jenis motor yang beredar di pasaran motor dan jalanan Indonesia..jenis motor apa yang paling banyak ditemui? Silakan jawab sendiri dan silakan menilai mayoritas kelakuan pengendaranya.

ATPM produsen motor saat ini seakan tidak memiliki idealisme. Seakan-akan orang Indonesia hanya boleh mengendarai motor-motor kecil dan berteknologi seadanya. Sekalipun cukup banyak varian moge yang dijual di Indonesia, harganya selangit dan tidak terjangkau.

Lepas dari masalah daya beli, hal ini sungguh berbeda dengan beberapa negara tetangga kita seperti Thailand dan Singapura. Jika ente pernah berkunjung kesana, maka moge dari mulai 400 cc hingga >1000 cc dengan mudah ditemui.

Memiliki moge di Indonesia tidaklah mudah. Hambatannya adalah harga dan legalitas. Jika ente memiliki dana, maka sebuah motor Ducati atau Harley-Davidson baru dan resmi (memiliki STNK-BPKB) dapat dipinang dari dealer, namun jika dana pas-pasan maka moge bodong pun bisa juga diperoleh dengan resiko tidak bersurat. Nah memiliki moge bodong tidak ane rekomendasikan lho, kecuali untuk pajangan di ruang tamu.

terkadang moge bodong ditemukan di sini

Website jual beli Moge

Kondisi demikianlah yang menjadikan memiliki moge hanya menjadi mimpi belaka di benak sebagian besar masyarakat Indonesia, akibatnya ya..fenomena moge wannabe merebak di mana-mana. Modifikasi motor yang tidak MEFRIK (Modern, Estetika, Fungsional, Rasional, Inovasi, dan Kreasi ditambah lagi SAFETY) pun laku keras, padahal tidak selalu bermanfaat bagi pemiliknya

Sampai kapan fenomena moge wannabe terus berlanjut di Indonesia? Well hanya Tuhan yang bisa menjawab. Manusia hanya bisa menilai. Tetap ingat selalu bahwa “di atas langit masih ada langit, dan di bawah tanah masih ada tanah”. Cukup sadari posisi kita di mana dan syukuri saja sambil terus berusaha. Tak ada salahnya mengejar moge impian kita dengan cara yang benar.

Yang pasti jika menemui orang dengan kelakuan seperti salah satu di atas, maka frase “moge wannabe” layak disandangkan untuknya.








%d blogger menyukai ini: