Wejangan Road Safety di tengah Lelayu*

28 04 2010

Oom Sar Sewaktu Muda

Paduan Suara Gereja

Suasana Rumah Duka, Lampersari no.18, Semarang

Suasana Pemakaman, Mont Carmel - Ungaran

Ajal memang tak dapat ditebak, pada Jumat dinihari kemarin (23/4), salah seorang sanak saudara ane meninggal dunia. Rasanya sama seperti kehilangan seorang kakek. Oom Sar, demikian beliau biasa disapa, adalah adik bungsu dari kakek ane. Terlahir dengan nama lengkap Sardjono, besar di Solo, kemudian pindah tempat tinggal di Semarang. Beliau adalah salah seorang pendiri Pertani dan sempat menjabat kepala Pertani divisi Jawa Tengah di tahun 80-90an.

Beliau meninggalkan 2orang putri, 1 orang putra dan 3 orang cucu. Begitu akrabnya keluarga Oom Sar dengan keluarga ane, tak lain karena Oom Sar bertemu istrinya karena “dicomblangi” oleh ibu ane.

Sewaktu Oom Sar masih segar bugar dulu, ane sering bermain dengan Mas Adhi, putra bungsu beliau yang usianya relatif sebaya dengan ane. Mas Adhi ini waktu ane masih culun sudah mainan motor gede..bahkan hingga sekarang Mas Adhi juga sering bertukar informasi seputar sepeda motor. Rupanya hobi kami sama..!

Well..karena Oom Sar adalah satu-satunya saudara Mbah Kung ane yang menganut agama Kristen Protestan, ,maka upacara penghormatan terakhir kemarin juga mengikuti tata-cara keagamaan gereja.

Seorang pendeta yang bernama Pak Teguh menjadi pembawa khotbah. Ane yang datang bersama istri tercinta turut mendengarkan khotbah beliau sambil memandangi wajah kaku Oom Sar yang terbujur kaku di dalam peti.

Tak disangka khotbah Pak Pendeta membahas mengenai peraturan dan Road Safety. Beliau menegaskan pentingnya peraturan. Usai membawakan materi khotbah, ane segera minta izin Pak Pendeta untuk mengambil foto materinya.

Materi Khotbah Pendeta - 1

Materi Khotbah Pendeta - 2

Ada konsep menarik dalam materi khotbah,  yaitu “harus…karena…”. Kita harus menaati peraturan lalu lintas contohnya berhenti di belakang garis putih pada saat lampu merah menyala karena dapat dikenai sanksi atau kecelakaan. Jadi sebenarnya ada yang lebih mengancam kita dari sekedar sanksi yang dijatuhkan manusia, yaitu sanksi Illahi yang dijatuhkan oleh Sang Maha Kuasa.

Ada juga konsep “tetap…walaupun…”. Bagi orang yang terbiasa hidup teratur, maka ia akan tetap taat pada aturan, meskipun tidak ada yang akan menghukumnya ketika ia melanggar.

Kita memerlukan peraturan untuk mengatur hidup kita agar tidak kacau. Namun bukan peraturan yang membelenggu, sehingga hidup hanya sarat dengan keharusan-keharusan yang akhirnya hanya akan menjadi beban kehidupan.

Pak Pendeta juga menjelaskan bahwa ada kekuatan baik dari dalam maupun dari luar diri seseorang yang mengatur jalan hidupnya..Well, dalam ajaran Islam ini dikenal dengan Qodo dan Qodar yah..

Rupanya seluruh ajaran agama jelas-jelas mengajarkan kebaikan. Bagaimana dengan umatnya? Nah mari kita berkaca..sudahkah kita jadi umat yang baik?

Semoga setelah membaca artikel ini kita menjadi seseorang yang taat peraturan. “harus…karena…” dan “tetap…walaupun…”.

Bagi yang tertarik dengan isi ceramahnya dapat mendownloadnya di sini.

*lelayu = suasana duka





KoBOI Itu Mencabut Sesuatu dari Pinggangnya di Bandara!

28 04 2010

Koboi Nih..

Setiba di bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng hari Minggu kemarin ane lihat seseorang memakai kaos edisi Ultah Koboi. Wah..manusia eksklusif nih..begitu piker ane. Karena pastinya kaos Koboi itu hanya didistribusikan ke beberapa orang dan blogger saja.

Jadi orang ini kalau gak blogger alias penjaga warung  ya pasti komentator blogger alias pengunjung warung…hehehe..jadi inget warung bro Taufik deh yang rame buanget..

Makin dekat..makin dekat, ane tegor deh tuh.. “Mas..mas..dapet kaos KoBOI darimana?

Mas-mas itu pun menjawab dengan kaget bin gelagapan..entah dia ngomong apa, tau-tau kami sudah saling berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri.

Dia langsung “ngeh” ketika ane menyebutkan nama “Benny”. Namun ane sempat salah sangka ketika mendengar nama “Imam”. Maklum di milis KoBOI ada 2 orang yang bernama Imam.

Rupanya bro Imam yang ane temui ini adalah bro Imam S.B., pemilik blog bengkelsepedamotor.wordpress.com yang terkenal itu. Wah..bangga sekali rasanya.

Usai berkenalan…dasar blogger KoBOI..memang tingkahnya mirip banget seperti KoBOI. Ternyata kami sama-sama menggantungkan “senjata” di pinggang kami. Ane mencabut Nikon S225 sementara bro Imam mencabut Sony nya…seri apa ya..hehe..gak tau deh..yang jelas kami langsung berangkulan dan difoto oleh istri ane tercinta.

Berikut foto-fotonya..

Foto Bareng Bro Imam S.B.

Selain mendapatkan foto eksklusif bersama bro Imam, ane juga mendapatkan spy shot barang bawaannya.

benarkah itu Bandeng Juwana khas Semarang..?

Diduga kuat dengan penuh tanda tanya dan tanda koma.. boks bergambar ikan tersebut bukanlah berisi ikan bandeng “Juwana” khas Semarang, tapi hanyalah akal bulus bro Imam dalam menyamarkan onderdil sepeda motornya..hehehe..Sukses ngapusi petugas bandara ya bro..!

sumber foto:

http://nigeldickinson.com





Oi Bro..Salam Toet Yuk!

28 04 2010

Klakson Toet

Di kalangan anggota klub/komunitas motor kerap terdengar “salam toet”. Apa itu?

Rupanya frase yang pertama kali ane baca di milis yamaha-scorpio@yahoogroups.com ini berarti menyapa sesama anggota klub/komunitas roda dua sewaktu bertemu di jalan.

Seru juga ya..

Klakson Motor

Memang dunia roda dua penuh dengan dinamika yang menyegarkan, salah satunya ya salam antar biker ini. Dengan melakukan salam toet kita memperoleh banyak nilai plus, diantaranya:

  • Jadi gak merasa kesepian di jalanan yang ramai.Ya, meskipun jumlah roda dua semakin membludak, namun kita pasti kadang merasa kesepian bukan?
  • Jumlah kawan dan kenalan bertambah. Nah yang satu ini ane buktikan sendiri..bahkan ane pernah dapat rekanan bisnis karena salam toet.
  • Lebih mengenal ciri khas klub/komunitas roda dua. Tiap organisasi otomotif pasti punya cirri khas tersendiri, dari mulai stiker sampai gaya berpakaian. Dengan salam toet kita akan lebih mengenal cirri khas tersebut.

Bagi ane pribadi, salam toet sangat terasa membudaya di kalangan pengendara Bajaj Pulsar. Awalnya ane kira karena populasi motor ini masih sedikit..ternyata ane salah. Setelah jumlah Bajaj Pulsar lumayan banyak di jalanan, Salam toet masih setia berkumandang.

Namun ada kalanya terdapat hal yang membuat ane malas memberikan salam toet, diantaranya:

  • Pengendara motor yang hendak disapa tidak mengenakan riding gear yang memadai, misalnya hanya pakai sandal atau pakai celana pendek.
  • Pengendara motor yang hendak disapa memakai asesoris yang “alay nan lebay” seperti sirine dan strobo. Norak ah..
  • Pengendara motor yang hendak disapa melaju kencang. Nah kalau ini wajar lah..ngapain juga ngejar-ngejar demi salam toet..hehehe..

Adakalanya salam toet juga malas dilakukan karena si pemberi salam merasakan beberapa hal:

  • Mengendarai motor yang lebih kecil dari motor yang akan disapa. Wah ini sih perasaan minder yang keterlaluan..bukankah kita menyapa pengendaranya, bukan motornya.
  • Mengendarai motor yang lebih besar dari motor yang akan disapa. Nah kalu ini namanya sombong..mentang-mentang motornya besar, lantas ogah menyapa si kecil. Padahal selama riding style kita elegan dan tidak arogan dan sruntulan, hal sacral bernama “BROTHERHOOD” akan tetap berlaku tanpa memandang jenis motor.

Nah setelah membaca artikel ini, semoga para pemirsa dapat mengamalkan salam toet kepada sesama biker di jalan, baik itu yang menggunakan motor sejenis, motor teman atau menyapa kawan satu klub/komunitas.

Selamat bertoet ria..!

sumber foto:

http://chazzy13.files.wordpress.com

http://riversidebrain.blogspot.com








%d blogger menyukai ini: