Scoopy, I Respect Your Style…!

8 06 2010

Sejak nama Scoopy mulai ane dengar sebulan yang lalu, sampai ane lihat bocoran desainnya ane mulai melirik skutik cantik ini. Honda ane ramalkan akan meraih sukses dengan Scoopy. Mengapa? Yah..berikut penilaian ane yang lagi sok tahu bicara strategi marketing.

1. Scoopy memiliki desain retro yang terkesan segmented. Tapi..
2. Harga Scoopy relatif terjangkau, di atas Beat dan di bawah Vario
3. Cikal bakal trendsetter gaya retro di Indonesia

Respect..ya..pasti.. Di tengah kekesalan ane terhadap Honda yang tak henti-hentinya memproduksi motor bebek dan tidak pernah berinovasi di motor sport nya. Yang ane soroti pada Scoopy adalah trend retro yang dibawanya.

Ane jujur aja salut dengan Honda yang akhirnya berani memproduksi motor yang “out of the box”, meskipun di sisi lain ane juga menilai Honda telah sukses mencuri start trend retro ini dari Yamaha Fino dan berpotensi merusak pasaran Piaggio dengan LX nya.

Dari acara “Uniquely Happy” yang diadakan di Senayan 5/6 kemarin ane melihat betapa kuat “spirit” dan “soul” yang dibawanya. Jelas pula bahwa target segmen Scoopy adalah mereka yang berusia muda dan ingin tampil beda.

Bicara retro tak lepas dari semangat bergaya dan menikmati jalan. Di sini Scoopy ane harapkan benar-benar menyisipkan budaya aman berkendara lewat trend retro yang dibawanya. Dengan trend retro maka budaya bergaya dapat disalurkan tidak hanya lewat tampilan motor, tapi juga dari tampilan pengendaranya.

Coba tengok tampilan pengendara Vespa pada tahun 70 hingga 80-an. Sungguh nikmat melihat mereka naik motor..dengan jaket klasik, dandanan jadul dan..ini dia..helm..helm yang mereka pakai unik dan yang paling asik..riding style mereka santai dan terlihat bagaimana nikmatny mereka menikmati perjalanan.

Di millenium ini ketika trend retro muncul kembali, mudah-mudahan apa yang ane rasakan di zaman retro tersebut dapat kembali. Lihat helm open face dengan kaca menggembung, sarung tangan kulit berwarna-warni dan sepatu akan mendorong pengendaranya untuk berkendara lebih sopan.

Di situlah ane respect terhadap trend yang dibawa Scoopy, kecuali ya..jika Scoopy lebih banyak dipakai oleh pengendara “alay” yang hanya mencari jalan pintas tampil beda namun lupa dengan gaya berkendara sopan yang diusung Scoopy.

Mari kita lihat bersama tingkah polah pengendara Scoopy di jalan.

Posted with WordPress for BlackBerry.





Berkenalan dengan TVS Motor Indonesia – (part.1)

8 06 2010

TVS Founding Fathers

Sejarah

TVS Motor Indonesia, nama TVS ini ane dengar pertama kali tahun 2006 sewaktu membuka iklan lowongan kerja di Career Development Center (CDC) ITB. Kala itu TVS membuka lowongan kerja untuk posisi Mechanical Engineer. 3 tahun kemudian ane baru ngeh bahwa TVS itu adalah produsen sepeda motor terbesar ketiga asal India. Perusahaan yang didirikan oleh TV. Sundaram Iyengar pada tahun 1911 ini memiliki banyak anak perusahaan, diantaranya TVS Motor. Usil gothak-gathuk…ternyata TVS sudah mulai berinvestasi di Indonesia sejak tahun 2006 dengan membangun fasilitas produksi senilai 50 juta US$ di daerah Karawang.

Pabrik TVS - Karawang

Rencana Pengembangan Pabrik TVS - Karawang

Strategi Investasi

Wah..dengan strategi investasi seperti ini, membangun pabrik terlebih dahulu kemudian baru berjualan motor mengingatkan ane kepada produsen motor terbesar di India yaitu Bajaj yang produknya sudah dikenal lebih dulu di Indonesia dengan varian Pulsar-nya. Menilik strategi Bajaj yang memilih untuk berjualan motor secara import bulat-bulat alias CBU hingga tahun 2008 jelas berbeda dengan TVS. Tersiar kabar bahwa Bajaj baru akan membuka pabriknya pada tahun 2011.

Pabrik TVS Motor Indonesia

Bukti Peresmian Pabrik TVS Indonesia

Dengan strategi marketing ini, ane dari sisi konsumen menilai Bajaj terkesan “icip-icip” pasar dahulu dengan memasukkan “tester bunny” nya ke pasaran Indonesia..dan ternyata motornya laku!! Ya jelas, ketika konsumen lelah dan bosan dengan motor yang itu-itu saja, Bajaj sukses mengambil kesempatan dan telah membuka dealer di beberapa pusat kota besar di Indonesia.

The Man Behind The Gun

Tercatat ada Pak Darmadi Tjuatja yang sebelumnya pernah 20 tahun lebih bergabung bersama Indomobil, ATPM Suzuki dan juga terdapat beberapa staff manajemen yang dulunya ada di Honda (AHM). Diperkuat lagi dengan adanya Pak Juwono Sudarsono di jajaran Komisaris, semakin memperkuat TVS untuk mengambil ceruk pasaran motor Indonesia dari genggaman Jepang.

Pak Darmadi Tjuatja

Jajaran Manajemen TVS Motor Indonesia

Lalu kedepannya bagaimana?

Oke..kita kembali ke TVS, dengan strategi bangun pabrik dulu, dagang kemudian, TVS sedikit kehilangan momen emas yang keburu disikat Bajaj. Oleh karena itu dara pengamatan singkat ane terlihat bahwa TVS memilih untuk memperkuat basis marketingnya di wilayah suburban, alias dari pinggiran menuju ke pusat. Namun karena pabrik sudah berdiri maka keuntungan bagi TVS adalah harga produk bisa lebih murah karena seluruh kegiatan produksi dilakukan di Indonesia dan konsumen secara jangka panjang akan melihat bahwa TVS benar-benar serius menggarap market Indonesia!








%d blogger menyukai ini: