[Spyhacker-1] Obrolan Cafe bersama Pak Henry

13 12 2010

 

Pak Henry dan helm INK Spy Hacker

Beberapa blogger dan penggiat keselamatan jalan seperti bro Edo Rusyanto (RSA, CERAS), bro Andry Berlianto (JDDC), bro Rio Octaviano (RSA), bro Ardy Purnawan Sani (RSA, IBBC), bro Ferdinand Neman (Pulsarian, FAST) dan juga ane (blogger KW-11) mendapatkan kesempatan untuk menjajal helm INK Spy Hacker.

 

Pak Henry @ Tamani Cafe

Helm ini unik, dan ane pun pernah menuliskan artikelnya di sini. Oleh sebab itu ane akan menulis beberapa pengalaman yang ane dapatkan sejak mendapatkan undangan dari Pak HenryTedjakusuma, salah satu pemilik pabrik helm INK yang dulu pernah mengundang Road Safety Association (RSA) mengunjungi langsung pabrik mereka di bilangan Karawang. Artikelnya ane tuliskan di sini.

Oke..rupanya banyak topik hangat dan bermanfaat yang bisa ane ambil dari diskusi di Cafe Tamani – Tomang bersama beliau dan bro Andri Hariadi selaku Public Relation.

kumpul-kumpul..

Apa saja itu..? Ini dia..

Dibuka tentang fakta logis bahwa manusia tidak ditakdirkan untuk berjalan untuk menaiki Yamaha R6..lho kok gitu? Ya, takdir manusia pada dasarnya hanya untuk mencapai kecepatan jalan kaki yaitu kurang lebih 5 – 10 km/jam.

Nah..hal tersebut adalah hal mendasar yang harus diingat dulu sebelum membahas helm, karena sebaik apapun helm, tidak akan mampu menahan impact (benturan) ke tubuh manusia pada kecepatan lebih dari 30 km/jam. Demikian ungkap Pak Henry.

Helm SNI

Namun peradaban manusia yang berkembang, menghendaki manusia untuk berpindah tempat dengan cepat, dan karena itulah perangkat keamanan seperti helm juga dituntut untuk berkembang.

Peradaban manusia juga melahirkan budaya adu cepat benama balapan, dimana kemenangan adalah serangkaian dari keputusan tepat yang diambil dalam waktu hitungan detik.

Oleh karena itulah harus dibedakan makna kecepatan di dalam penggunaan sipil (di jalanan umum) dan untuk kepentingan kompetisi (sirkuit), yang akan menghasilkan kebutuhan yang berbeda pula dalam hal safety gear. Dan hal ini menyadarkan kami bahwa pada hakikatnya safety gear hanyalah alat untuk mengurangi resiko benturan yang mematikan. Dan bukan menghilangkan benturan sama sekali. Jika tidak ada safety gear, maka siapa yang akan menjadi benteng pengaman terakhir yang melindungi bagian tubuh kita?

Jadi ingat kutipan dari kawan-kawan RSA bahwa :

motor itu besi yang dibalut daging, sementara mobil adalah daging yang terbalut besi

Obrolan akhirnya mengarah pada trend sepeda motor yang laku keras pada tahun-tahun terakhir karena ketidakmampuan pemerintah menyediakan transportasi massal. Inilah isu yang menurut ane penting untuk diangkat.

Bagaimana seseorang memperlakukan sepeda motornya? Sebagai asset (harta) atau sebagai cost element (pos pengeluaran)?

Demikian lontaran pertanyaan dari Pak Henry.

Ane yang mendapatkan tudingan pertama langsung mengatakan bahwa sebuah sepeda motor adalah sebuah asset.

Dan langsung dilanjut oleh Pak Henry..”Bagus..kalau gitu anda akan melakukan yang terbaik bagi motor anda dan akan membelikan yang terbaik juga bagi pengendaranya”. tukasnya diakhiri dengan senyum simpul.

Tapi sayangnya sedikit sekali pemilik motor yang memperlakukan motornya sebagai asset. Pada umumnya mereka menganggap motor itu sebagai pos pengeluaran alias biaya transportasi, sehingga seseorang akan cenderung melakukan “cost down” alias menekan pengeluaran sekecil-kecilnya. lanjut Pak Henry..

Dan sebagai akibatnya, ane jadi berpikir…lihat sendiri di jalan, helm cetok masih akan laku karena banyak orang yang menganggap helm itu sebagai ongkos/biaya, bukan sebagai asset yang dibutuhkan.

motor...asset atau cost..?

Demikian juga dengan motor..motor murah dan terjangkau akan tetap laku selama transportasi massal tetap amburadul. Dan selama itu pula, orang akan menganggap motor sebagai bagian dari ongkos transportasi mereka yang biayanya harus ditekan sekecil-kecilnya. Dan dengan demikian sesungguhnya mereka secara tak langsung juga merendahkan harga nyawa dan keselamatan diri sendiri.

Alangkah tragisnya…Padahal mereka mampu memiliki sepeda motor yang mungkin cicilannya berkisar ratusan ribu rupiah. Seharusnya mereka juga mau dan mampu membeli sebuah helm yang layak pada kisaran harga segitu.

sumber: eftianto.wordpress.com

Tapi itulah potret menyedihkan masyarakat kita.. Setiap hari menurut data TMC Polda Metro Jaya, paling tidak tiga nyawa manusia pengendara motor harus meregang akibat benturan.

Apakah ente akan menjadi korban berikutnya?

nih bonusnya.. otak-otak:mrgreen:

bersambung…

 


Aksi

Information

9 responses

13 12 2010
xxl123

pertamakk😀

13 12 2010
siapa yg pantas untuk aku dambakan..

pertamax um ben,

13 12 2010
siapa yg pantas untuk aku dambakan..

walah,disalip raja pertamax jebule..

13 12 2010
jahe

wis paling bawah DP gan !

13 12 2010
jahe

hmmm seutuju klo jatuh dari motor di 60kpj diibaratkan jatuh dari lantai 5

http://remcakram.wordpress.com/2010/11/29/kecepatan-dan-daya-tubruk/

13 12 2010
13 12 2010
kadal

otak-otak🙂
kayaknya enak tu

14 12 2010
bejo

seremmmm pepes otakna

14 12 2010
handout

terimakasih tas postingnya
semoga sukses selalu..
Butuh tulisan-tulisan seputar peternakan,
silahkan kunjungi
REPOSITORY UNAND

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: