Zona Deselerasi Traffic Light..Kok Malah Dibuat Licin..?

29 12 2010

Ninja 250 riding

Ninja 250 ini ane geber dengan penuh kewaspadaan dengan kecepatan hanya sekitar 35-40 km/jam. Maklum lah kondisi jalanan basah karena hujan gerimis yang cukup deras baru saja dimulai. Padahal ruas jalan Kayu Putih di samping pacuan kuda Pulomas ini memiliki jalanan yang sangat pas untuk kebut-kebutan karena alignment-nya yang lurus, namun balapan liar tak pernah terjadi di sini karena razia polisi kerap terjadi.

Sebuah motor bebek menyalip ane dengan kecepatan tinggi, barangkali sekitar 80 km/jam setelah sebelumnya geber gas di belakang motor ane. Ah..entah kenapa motor lain selalu menantang balapan jalanan ketika melihat motor sport. Padahal kalau mereka diajak ke Sentul belum tentu mau dan bisa menang dengan motor yang sama.

 

Jas Hujan Batman (foto: blog Edo Rusyanto)

Ane tetap berjalan santai di belakang motor bebek itu sambil memperhatikan pengendaranya. Jas hujan batman, helm open face dan sandal jepit. Yah…tipikal pemotor yang memperlakukan motornya hanya sebagai cost alias biaya pengeluaran sehingga apapun yang berkaitan dengan motor, biayanya harus ditekan serendah-rendahnya tanpa memikirkan keselamatan lagi.

 

tipikal penampilan pemotor

tipikal penampilan pemotor

Menjelang lampu merah perempatan Kayu Manis – Perintis Kemerdekaan, ane sejak jarak sekian ratus meter sudah melakukan pengereman ala ABS (Antilock Breaking System) yaitu dengan meremas-lepas tuas rem dengan tujuan agar ban motor tidak mengunci dan masih bisa menggigit jalanan dengan sempurna.

Tiba-tiba motor bebek itu tergelincir kira-kira 50 meter sebelum lampu merah.  Gubraaaakkk…Kweeeekk…begitu bunyinya…:mrgreen:

Ane yang berada di belakang motor bebek tersebut segera melakukan sudden braking, namun ane tidak terlalu panik karena jarak lumayan jauh.

Segera ane dekati pemotor tersebut dan ternyata ia masih bisa berdiri dan mengangkat motornya.

Terjadilah dialog berikut:

Ane: Gak papa pak?

Pemotor: Gak papa..tadi saya ngerem belakang kok malah ngesot

Ane: Wah harusnya pakai rem depan pak ngeremnya..

Pemotor: Kalau pakai rem depan saya takut njungkel ke depan mas..

Hmmm…segera ane menganalisa…

 

Stopping Dsitance by Braking Techniques

Stopping Distance Under Wet Conditions

Ow…rupanya perkerasan (paving) jalan sekitar 30 meter menjelang lampu merah terbuat dari beton yang sangat licin. Entah apa yang ada di pikiran para engineer yang merancang perkerasan tersebut. Lihat gambar di bawah.

perkerasan beton nan licin menjelang lampu merah

Lokasinya di sini bro..HATI-HATI..!

Namun tidak hanya itu. Rupanya sang pemotor juga memraktekkan cara mengerem motor yang salah dan berbahaya.

Pada saat deselerasi (penurunan kecepatan), berat motor akan berpindah ke ban depan, hal ini tentunya membuat ban depan lebih memiliki friksi daripada ban belakang. Oleh karena itu, penggunaan rem depan harus diprioritaskan. Komposisi pengereman yang baik adalah 60-70% pada ban depan, dan 30-40% pada ban belakang.

Dari aspek desain perkerasan jalan, seharusnya menjelang traffic light, perkerasan jalan dibuat untuk mengatasi kendaraan yang pastinya melakukan pengereman (deselerasi) dan akselerasi menjelang lampu merah.

Tapi ini…malah terbuat dari lapisan beton yang bahkan tidak diberi alur sehingga “Slippery When Wet” alias licin ketika basah. Desain jalan seperti ini jelas tidak road safety friendly.

Ane langsung teringat kepada UU no.22 tahun 2009 pasal 24, 216 dan 238:

Pasal 24

(1) Penyelenggara Jalan wajib segera dan patut untuk memperbaiki Jalan yang rusak yang dapat mengakibatkan Kecelakaan Lalu Lintas.

(2) Dalam hal belum dapat dilakukan perbaikan Jalan yangrusak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), penyelenggara Jalan wajib memberi tanda atau rambu pada Jalan yang rusak untuk mencegah terjadinya Kecelakaan Lalu Lintas.

Pasal 216

(1) Masyarakat berhak mendapatkan Ruang Lalu Lintas yang ramah lingkungan.

(2) Masyarakat berhak memperoleh informasi tentang kelestarian lingkungan bidang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Pasal 238

(1) Pemerintah menyediakan danatau memperbaiki pengaturan, sarana, dan Prasarana Lalu Lintas yangmenjadi penyebab kecelakaan.

(2) Pemerintah menyediakan alokasi dana untuk pencegahan dan penanganan Kecelakaan Lalu Lintas.

So, ane hanya mengingatkan kepada bro n sist yang barangkali akan melintas dari arah Kayu Putih menuju traffic light perempatan Jl. Perintis Kemerdekaan untuk lebih berhati-hati tidak hanya ketika hujan turun, tapi juga ketika hendak berhenti di zona deselerasi berbahaya tersebut.

Perkerasan jalan yang sangat licin membuat pengereman kendaraan menjadi tidak sempurna dan berpotensi membuat ban menjadi slip/terkunci.

WASPADALAH…!


Aksi

Information

17 responses

29 12 2010
yudibatang

Pertamax…😀 kaya cerita Alay tuwa yang malang…

Nitip nggelar Bang
https://yudibatang.wordpress.com/2010/12/29/ini-loh-jalan-raya-pantura-kabupaten-batang-jawa-tengah/

29 12 2010
buleketek

hooh… sering lewat situ.. kayak jalan blm jadi

29 12 2010
Triyanto Banyumasan

Mantap infonya Om Ben… tapi paling mantap yang ini “Gubraaaakkk…Kweeeekk…begitu bunyinya…” aseli ngakak..ak..ak.. kalo ngomongin bebek gak penah ketinggalan kwekknya ..ak..ak…
like this lah pokoken

29 12 2010
29 12 2010
j4na

pembalap jalan kurang pengetahuan tuh….. ha ha ha…..
http://dewataspeedblog.wordpress.com/2010/12/29/770/
“dibalik dashboard yamaha M1”

29 12 2010
kuro22id

Sosialisasi penggunaan rem depan menurut saya juga kurang. Jangan takut menggunakan rem depan, karena masih ada shock depan ya meredam dorongan gerak kendaraan

29 12 2010
asmarantaka

emang jalan perekerasan kayak gitu banyak juga si SMG…mungkin tujuannya biar pada jatuh tuh motorr..trus kalo rusak pada beli lagi dan bayar pajak lagi..makmur tuh yg bikin:mrgreen:

29 12 2010
dnugros

wuihhhhh sekarang bebek kalo jatuh bisa bunyi kwekkk gitu yach…hebat😀

29 12 2010
Moko

kadang memang aneh yg bikin jalan tu, tempat tertentu yg harusnya lebih keset dibanding ruas jalan yg lain tapi ini malah dibuat lebih licin. mirip sama yg ini om:
http://gunungmotor.wordpress.com/2010/12/20/zona-selamat-sekolah-kok-licin-zona-bahaya-sekolah-dong/

29 12 2010
sabdho guparman

peraturan tinggal peraturan . . .
jalan rusak dimana-mana, lampu merah byar pet . berapa nyawa lagi yang harus melayang sia-sia hanya kelalaian penyelenggara negeri ini ?
sementara pajak yang rutin kita bayar malah dikekepi oleh gayus . . .

sedih kalau mikir negeri ini

keep brotherhood,

salam,

29 12 2010
Tonnie

Setuju ma mas Moko. Trmsuk zona selamat sekolah.. Mbuh kpye maunya Pemerintah tu..
Pengen numbalke org, biar pd cpt sugih kali ya..?

29 12 2010
aditninjamaniac

waduh itu jalan gak salah bikin apa mas ben?mengkilap bener tuh..kalo disini banyak ZSS alias zona selamat sekolah yg aspalnya di cat mas ben..jadi licin bgt..apa disana ada juga yg seperti ini?

29 12 2010
Maskur

Yang jelas, yang mbikin itu jalan cuma melihat aspek beban. Tau kan beban diam di lampu merah lebih besar daripada beban bergerak. Solusinya adalah dengan perkerasan kaku…..tapi mereka lupa aspek finishing….selain masalah friksi juga masalah kenyamanan…..
kalo perkerasan kaku ditutup aspal yang empuk dan tahan beban………………tapi mahal mennnnnn….gak mau rugi lah

29 12 2010
extraordinaryperson

si gubernur yang ngaku ahli kyknya emang sengaja tuh biar populasi roda dua berkurang😈

30 12 2010
tiyo 2010

ahlinya apa…..ahllinya ngapusi kalee….

31 12 2010
touringrider

setau sy, disekitar daerah jatim sudah dimulai penggantian area deselerasi dengan beton beralur. termasuk juga jalur2 yang aspalnya rawan nglipat akibat beban yang berlebih. kalau jalan dr beton nggak ada alurnya?? wah, gimana tuh kontraktor dan Dishubnya??

2 01 2011
blognyamitra

Ati2 di bawah kolong semanggi, banyak tumpahan solar dari metromini, sudah banyak biker berjatuhan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: