Posisi Plat Nopol Ninja 250, Sebuah Dilema..Mohon Saran dan Masukannya..!

19 05 2011
positioning plat nopol Ninja 250

positioning plat nopol Ninja 250

Pasca kejadian dengan pak polisi sewaktu razia di Kemayoran kemarin ane kembali merenung. Memang ada beberapa hal yang harus digaris bawahi di sana.

1. Disinyalir banyak oknum polisi yang tidak paham perundangan dan peraturan.

Ini jelas terlihat ketika pak polisi berpangkat V dua buah di masing-masing bahunya itu ane mintai referensi mengenai plat nomor kendaraan. Padahal ane sudah tau yaitu pada pasal 68 UU no.22 tahun 2009.

Nah, bayangkan jika ane tidak tahu apa-apa, pastilah ane sudah ditilang karena kehendak dan logika pak polisi, bukan karena aturan yang jelas.

Sangat disayangkan memang, ketika seharusnya UU dan PP lalu-lintas disosialisasikan oleh kepolisian, namun beberapa oknum polisi malah tidak tahu.

2. Kejelasan Undang-undang dan Peraturan Pemerintah tentang lalu-lintas

UU no.22 tahun 2009 memang diterbitkan untuk menggantikan UU no 14 tahun 1993. Namun sayang, sudah hampir 2 tahun berlalu, Peraturan Pemerintah, sebagai turunan dan detail teknis dari UU no.22 tahun 2009 belum juga terbit.

Akibatnya, UU no.22/2009 menjadi pegangan yang kurang mendetail, contohnya pemakaian knalpot aftermarket. Di dalam UU boleh saja ada pelarangan pemakaian knalpot bersuara bising. Tapi seberapa bising? Berapa desibel? Bagaimana dengan knalpot-knalpot moge yang memang “defaultnya” sudah lebih bising dari motor berknalpot racing?

Nah inilah akibatnya, adanya berbagai penafsiran. Menghasilkan “grey area” yang tidak jelas.

Pada pemasangan plat nopol ane juga begitu. Dalam UU no.22 tahun 2009 pasal 68 tidak ada yang menyebutkan plat nopol harus terlihat. Sehingga ane menafsirkan boleh saja diletakkan di bawah radiator.

Tapi apakah ini benar? Ya..memang tidak salah, tapi benar ane rasa juga tidak. Bingung kan?

3. Dilema pemasangan plat nopol

Pada motor berfairing, hal ini menjadi dilema, yah setidaknya buat mereka yang peduli terhadap estetika dan kerapihan sebuah motor.

Mau ditaruh di belakang windshield, tidak enak dipandang dan berpotensi menggores. Diletakkan pada dudukan di depan windshield, kok ya bikin motor jadi aneh. Di bawah radiator piye oom ben? Ya gak papa sebenarnya menurut peraturan, tapi secara etika memang tidak seharusnya plat nopol diletakkan disitu toh?

Jika ane melakukan pembenaran atas posisi plat nopol ane, maka ane sama saja mengamini oknum-oknum pengguna motor lain yang menaruh plat nopolnya di dalam spakbor belakang, atau memasang lampu strobo dan sirine. Alasan mereka bisa jadi sama, yaitu alasan estetika. Tapi bukankah ini sama saja berkata “motor aing kumaha aing”..?

Ane harus introspeksi lebih dalam nih. Dan pastinya perlu bantuan saran, input dan masukan dari bro n sist pembaca blog. Sebuah “win-win solution” agar ane tetap dapat mematuhi etika berkendara, tanpa harus mengorbankan estetika dan kerapihan motor.

Silakan ajukan saran, input dan masukan mengenai alternatif positioning plat nomor depan di Ninja 250.

Saran, kritik dan masukan yang ane anggap kreatif dan solutif terhadap dilema yang ane alami, akan diganjar hadiah berupa sebuah mug Ducati.

mug Ducati euy..










%d blogger menyukai ini: