PO. Sumber Kencono, Angkutan Express Ke Alam Baka…??

23 05 2011

nyaman dan tepat waktu..?

Ane masih ingat betul akan PO Raya, PO Muncul, Po Apollo dan PO Lorena yang sejak kecil ane tumpangi kalau berkunjung ke Solo. Ya, meskipun ane kadang mabuk darat dan hoek-hoek :mrgreen: , namun menumpangi sebuah bis adalah sebuah pengalaman yang nikmat. Baca entri selengkapnya »





Swing Arm Cuma Sebelah, Apakah Sama dengan Bekas Gigitan Bebek..?

23 05 2011

swing arm kok cuma sebelah..? mau dikeluhkan..?

Urusan kekhawatiran konsumen memang sukses bikin pabrikan kebakaran jenggot. Namun seberapa jauh konsumen dapat merasa khawatir..? Atau malah sebaliknya, seberapa jauh konsumen dapat membuat pabrikan merasa khawatir..? :mrgreen: Baca entri selengkapnya »





Pilih Motor..Tenaga Badak tapi Boros, atau Computerized tapi Irit..?

23 05 2011
pilih irit BBM atau tenaga bengis..?

pilih irit BBM atau tenaga bengis..?

Pertanyaan di atas pas betul untuk menggambarkan trend dunia otomotif khususnya sepeda motor.

Jika bro n sist sempat mengubek-ubek informasi seputar spesifikasi mesin motor di era tahun 80 hingga 90-an, dan membandingkannya dengan spesifikasi motor yang beredar belakangan ini, maka akan dapat ditarik benang merahnya.

Pada era 80 hingga 90-an, menurut ane adalah puncak kejayaan permesinan motor. Pada saat itu begitu banyak beredar motor dengan mesin bertenaga bengis, namun cukup sederhana mekanismenya,tidak melibatkan banyak sensor dan indikator. Beberapa contohnya seperti Suzuki Bandit series, Honda CB series dan juga GSX series. Pada era tersebut motor dengan cc besar aka “muscle bike” terbilang lumrah.

Sebagai kompensasi atas torsi dan power maha besar itu maka konsumsi BBM ikut besar. Namun boros adalah hal yang lumrah mengingat isu kelangkaan BBM dan menipisnya cadangan minyak bumi belum menjadi perhatian.

Sementara itu memasuki era 90-an teknologi motor berkembang juga, demikian pula dengan berbagai isu lingkungan. Oleh karenanya kendaraan berkubikasi mesin besar dinilai tak lagi relevan karena boros. Timbullah berbagai teknologi untuk lebih “mengoptimalkan” pemakaian BBM, dari mulai ECU, injeksi, pengurangan jumlah ruang bakar alias kubikasi..pokoknya semua menjadi lebih ringkas dan lebih kecil. Alasannya..efisiensi.

Yah..isu ini memang dahsyat..dan terasa kok dampaknya. Ane masih ingat ketika riding harian naik motor di pertengahan 2006. Jalanan Jakarta kala itu tidak semacet sekarang pada jam sibuk.

Dunia motor di Indonesia pun seakan berubah. Efisiensi BBM mendadak jadi hal penting. Kubikasi mesin motor pun terpangkas. Masih segar di ingatan kita bagaimana ketika Suzuki FXR150 dan Thunder GSX250 mampu menyajikan performa mesin yang seolah mendahului masanya. Belum lagi Honda NSR dan Yamaha TZM yang tidak peduli kata boros..yang penting tenaga “nendang”..!

Nah, 1 dekade setelah tahun 2000, kerinduan akan torsi yang meledak dan power melimpah mulai banyak yang merindukan. Motor rondo keluaran tahun 90an makin diminati. Ini terlihat dari beberapa kawan “pedagang” yang memberikan informasi bahwa moge-moge seken tahun 90an banyak yang beli.

Simple, mudah perawatan dan bertenaga adalah alasan utamanya. Seorang kawan pun mengakui sambil bercanda “jaman sekarang kota makin padat sob, jadi motor dikecilin.jangan harap bisa melenggang naik moge kaya taon 90an” begitu katanya.

Memang benar sih, di era sekarang ini banyak pecinta motor muscle yang harus menyerah pada padatnya jalanan kota. Yang dulu bisa melenggang harian riding nikmat pakai motor ber-cc besar sekarang harus turun kasta naik bebek atau matic karena alasan klasik.. “Macet bo”

Dari sudut pandang ane, di ranah motor perbatasan alias 250 cc, setelah Thunder 250 yang kurang sukses di pasaran ini, Kawasaki terbilang berani membangkitkan trend muscle bike ini dengan Ninja 250 nya.

Ane baru sadar tentunya setelah CBR 250 keluar. Betapa sederhananya mesin inline twin dan komponen kelistrikan Ninja 250 dibanding pesaingnya si CBR 250. Meskipun torsi awal dimenangi oleh CBR250 namun overall, secara subjektif ane tetap vote untuk Ninja 250 tak lain karena motor ini seolah merupakan fosil muscle bike era 90an yang diberi wajah baru.

Berbeda dengan CBR 250 yang menurut ane teknologinya lebih maju namun secara umum “less powerful” dibanding Ninja 250.

Tapi..ini hanyalah ulasan singkat seorang perindu motor bertenaga saja. Dengan adanya CBR 250 dan Ninja 250, juga dengan adanya 250 cc keluaran pabrikan lain. Konsumen jadi mendapat pilihan.

Mau yang berbadan besar, bengis, bertenaga badak tapi boros…

atau

Mau yang irit BBM, full sensor, computerized tapi less powerfull

Pilih mana..?








%d blogger menyukai ini: