Semangat Sahur Sukasari

5 08 2011

Suara Pak Hansip membangunkan ane sekitar pukul 02.30 pagi..ketika membalikkan badan, beberapa buku berjatuhan dari perut ane. Hmm..rupanya ane tertidur sehabis belajar.

Sweater cap gajah bertuliskan “In Harmonia Progressio” ane sarungkan ke badan, lengkap dengan kupluknya. Ritual ini penting dilakukan sebelum membuka pintu kost ane yang langsung menghadap ke teras rumah.

Brrr… Selamat datang udara dingin khas Bandung, yang menerpa di atas tumpangan angin sepoi-sepoi. Ane pakai sandal, dan cukup bercelana pendek ane susuri gang di bilangan Sukasari berkode pos 40134 ini sambil menenteng beberapa buku.

Di kamar sebelah dan di rumah kost seberang, Kawan-kawan kost yang juga kawan-kawan alumni SMUN 13 Jakarta yang lulus UMPTN dan diterima di Bandung ternyata belum bangun..Ya, di sini adalah sekretariat alumni SMU ane, sebuah tempat mencari informasi dan silaturahmi bagi alumni SMUN 13 yang diterima di perguruan tinggi di Bandung.

Back to kuliah..Mata kuliah Mekanika Fluida sebenarnya tidak memerlukan perhitungan njelimet, asal paham konsepnya, maka rumus bisa menyesuaikan..terlebih ujian kali ini adalah open book, jadi menghapal rumus pun percuma saja.

Keremangan gang di Sukasari terasa ramah dan bersahabat, berbeda jauh dengan di Jakarta dimana ane akan selalu was-was ketika memasuki gang. 100 meter ane berjalan..

Suasana menyambut pagi di bulan Ramadhan ini terlihat jelas. Ibu pedagang nasi kuning buka lebih awal, mengepulkan aroma lezat dari dandangnya, tak kalah dengan bapak tua pedagang kopi dan gorengan. Yang ane suka di kawasan perkampungan ini adalah makanan yang dijual memakai gula dan minyak asli..bukan oplosan..sehingga kualitasnya terjamin.

Beberapa anak kost yang dari jaket himpunannya disinyalir mahasiswa Unpad berjalan beriringan mencari makan di warung makan yang khusus buka di waktu sahur selama Bulan Ramadhan ini. Ya, di kawasan ini populasi mahasiswa Universitas Padjadjaran memang lebih banyak karena dekat dengan kampus Dipati Ukur.

Gemericik air di kali semakin jelas terdengar ketika ane mendekati jembatan. Kali itu terletak kira-kira 5 meteran di bawah jembatan, cukup dalam memang..belum lagi arusnya sangat deras karena beda elevasi di kawasan ini cukup jauh. Sayangnya tidak ada pagar pengaman jalan, sehingga pemotor harus berhati-hati melintas, kalau tidak..mereka akan bernasib sama seperti beberapa korban yang harus rela patah kaki karena nyelonong ke kali.

Kaki ane langkahkan ke sebuah warung di jalan utama Sukasari. Terletak di gang cukup lebar yang muat dimasuki mobiln di sana bisa dibilang kawasan bisnis di Sukasari. Beberapa toko kelontong, tempat potong rambut, warnet hingga rental playstation dapat ditemukan di situ.

“Bade ujian A..” Sapa penjaga warung menyapa ane yang baru masuk sambil menggosokkan tangan. Meskipun sudah hampir 3 tahun tinggal di Bandung, namun ane belum juga dapat beradaptasi dengan udara Bandung. Berbeda dengan si Aa penjaga warung yang cukup bercelana pendek dan berkaos oblong. Ah..kendati demikian, ane sangat menikmati suasana Bandung dinihari ini.

“Kacang ijo hiji A..” Begitu request ane ke si Aa yang dengan sigap mencampurkan ketan hitam, kacang hijau dan santan ke sebuah mangkuk.

Aaah..nikmat benar bubur kacang hijau ini..hangatnya terasa di tenggorokan, belum lagi tekstur lembut ketan hitamnya berpadu dengan santan yang kental. Rasa dingin di tubuh ane mendadak sirna membawa rasa kantuk pula.

Penyiar radio Ardan di 105.8 FM membuat suasana warung menjadi ceria dengan lelucon dan beberapa kuis bertema Ramadhan. Sesekali si Aa dan 2 orang kawannya mengomentari perkataan dan candaan si penyiar.

Buku Mekanika Fluida dan buku catatan ane keluarkan dari tas gemblok. Kembali ane pelajari berbagai contoh soal di buku dan juga catatan kuliah dari pak dosen. Meskipun beberapa kawan sekelas tinggal di dekat kost, namun ane lebih memilih belajar sendiri. Lebih “resep” rasanya.

Aliran laminer dan turbulen usai ane santap, begitu pula koefisien gesekan dengan dasar saluran terbuka dapat ane hapalkan. Open channel hydraulics (Hidrolika Saluran Terbuka) adalah contoh rekayasa sumber daya air yang cukup tua. Masyarakat Bali sudah menguasainya sejak lama dengan sistem pengairan “Subak”

Tak terasa. Dua mangkuk kacang hijau dan segelas teh manis selesai ane santap, begitu pula asupan ilmu sudah cukup rasanya ane lahap ke kepala. Sekarang saatnya menarik napas panjang, menikmati udara Bandung dan menyeruput sisa teh manis yang masih mengepul asapnya.

“Lima ribu perak..nuhun A” demikian sahut si Aa ketika ane bertanya “Enggeus A, Saberaha ieu..?”
Beberapa vocabulary bahasa Sunda lumayan fasih ane ucapkan, padahal di tahun pertama, kalimat terpanjang yang ane tahu adalah “Kiri payeun A..” Yang biasa ane ucapkan ke sopir angkot.. Juga keisengan beberapa senior ane yang dulu mengerjai ane dengan menyuruh mengucap “Punten Beul..” Kalau melewati warga setempat..untunglah tidak ane lakukan..:mrgreen:

Langkah pulang mengiringi pengajian yang mulai bergema di masjid-masjid di Sukasari. Ah, sudah hampir imsak rupanya.. Alhamdulillah sudah bisa sahur sambil belajar..

Setiba di pintu kost, badan ini sudah lumayan hangat, meskipun kabut tipis masih mengepul dari hidung ane..segelas air putih ane teguk sebagai penutup menu sahur hari ini.

***

Nah..nukilan suasana sahur di atas terjadi sekitar 8 tahun lalu ketika ane masih menjadi mahasiswa di sebuah Institut Teknologi di Bandung.

Hingga kini, ane harus akui bahwa separuh nyawa ane tertinggal di kota itu, sebuah kota dengan sejuta kenangan dan juga sejuta penganan..:mrgreen: 8 tahun lalu Bandung belum mengenal macet seperti sekarang. Kenangan Almarhum Bapak ane yang juga satu almamater dengan ane pun masih dapat ane temui, diantaranya ya sergapan hawa dingin tadi..

Hari ini.. 6 Agustus 2011..ane sudah berada kembali di kota panas dan bernyamuk bernama Jakarta. Karena holodeck ala USS Enterprise belum ditemukan, maka ane hanya bisa makan bubur kacang hijau yang ane beli tadi malam.

Sementara itu yang membuat ane kembali teringat suasana Bandung adalah streaming siaran radio Ardan, Ninety Niners dan juga OZ FM yang masih bisa ane ikuti dengan aplikasi TuneIn di Flyer ane.

Meskipun kecanggihan teknologi sudah mampu membawa siaran radio dari Bandung ke Jakarta, juga kecepatan mesin Ninja 250 mempu membawa bubur kacang hijau ke rumah ane, namun suasana warung Sukasari 8 tahun lalu akan tetap sulit ane dapati di hari-hari ini.

Tak lain sebabnya adalah waktu dan konsen yang terbatas, menyebabkan suasana menjadi terasa langka dan mahal.

Ah..life must go on, diiringi lagu Dream Theater berjudul “The Best Of Times” artikel ini dibuat sembari menunggu waktu sholat Subuh tiba..

Selamat berpuasa kawan..


Aksi

Information

7 responses

5 08 2011
vrz_evolution

curhaaaat…xixixi

5 08 2011
5 08 2011
kampak

sekarang shanel radionya geser be, .. nambah 0,1
xixixix

5 08 2011
vermilion

bdg sekarang tak sedingin bdg yg dulu om ben,,

6 08 2011
to pick

ehhhhh…. angkatan sabaraha? hohohoohoho…. cuman di kampus ini indonesia pernah tenggelam

6 08 2011
bennythegreat

Sipil2000

6 08 2011
ipanase

asikk

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: