Move On dari M7 ke S5

9 03 2015
komparasi S5 vs M7

komparasi S5 vs M7 (sumber: phonearena.com)

Untuk meramaikan awal bulan Maret ini, mumpung ada mood ngeblog.. izinkan ane berbagi kisah mengenai peremajaan acang yang baru saja ane lakukan. Meskipun kedua acang itu sudah relatif out of date.

Sebagai awalan, silakan simak perbandingan spesifikasi kedua acang tersebut di sini.

Puas memakai HTC One M7 selama hampir 2 tahun, tuntutan kegiatan foto bareng dan selfie semakin meningkat :mrgreen:, sementara kamera utama M7 sudah kadung kena penyakit campak Purple Tint (PT) ketika low light, dimana hal inilah yang menjadi alasan besar peremajaan acang ane. Setelah menimbang, maka diputuskan memilih Samsung Galaxy S5 (unit yang ane pakai SM-G900F) dengan alasan sbb:

Baca entri selengkapnya »





Ducati Monster 795, First Riding Experience

14 12 2011

Ducati Monster 795

Barangkali karena ada “calo test ride” alias Mbah Dukun Satar..ane jadi bisa langsung mendaratkan pantat di jok motor 803 cc desmodromic yang memiliki seat height 770 mm ini..Padahal mesin Ironhide baru saja dimatikan begitu touch down di area parkir Ducati SCBD.

Paha ane pas mengapit tangki gambot 795 yang montok. Ketika tangan dijulurkan untuk meraih stang, riding position langsung terasa Baca entri selengkapnya »





[Sharing] 15.000 km Bersama Ninja 250R

19 08 2011

image

Malam tadi ane melintas di Salemba, dan ketika iseng melirik speedometer..Wah…odometernya menunjukkan angka 15.000 km. Rupanya sudah lumayan berumur juga Ninja 250 ini. Memang sih sebelumnya ane sudah rencanakan untuk mengabadikan usia si motor pada 10.000 km, namun sayang kelupaan dan bablas terus sampai 15.000 km. Touring #XLNetRally ke Semarang kemarin turut berjasa menambah usia kilometer Ironhide.

Apa saja yang bisa dishare dari 15.000 km bersama Ninja 250..? Pastinya jarak tersebut lebih jauh dari diameter bumi yang hanya 12.756 km lho..

Secara umum, menggunakan Ninja 250 untuk harian tidaklah seribet yang sering dikatakan orang mengenai membawa motor segede ini kemana-mana. Barangkali karena ane sudah terbiasa dengan Bajaj Pulsar yang berat itu sehingga ketika beringsut menggeser Ninja 250 tidak ada masalah.

Panas mesin juga bukanlah hal yang mengganggu, terlebih karena ane sering menggunakan tank bag yang menghalangi angin panas dari radiator yang menyelinap dari celah antara fairing dengan tangki. Ada satu hal yang unik dari Ninja 250 ane ini, terkadang kipas radiator menyala sendiri setelah 5-6 jam mesin dimatikan. Mistis..?

Riding impression…inilah yang membuat ane sedikit speechless. Dengan Ninja 250, memang benar, refleks menjadi meningkat meskipun ane bukan tergolong rider yang gemar ngebut. Kecepatan rata-rata pun paling hanya 60-80 km/jam saja. Karakter mesin parallel twin yang “baru bertaring” di RPM 6000-7000 ke atas membuat ane sering lambat berakselerasi namun ketika 6000 rpm tercapai, hmmm..overtaking pun lebih percaya diri karena akselerasi dapat diraih dengan cepat..Sayang, jalan cepat habis atau keburu ketemu macet.

Ergonomi motor pun terbilang nyaman karena tidak terlalu merunduk, namun ane tetap ingin memasang footstep aftermarket dan stang yang sedikit lebih maju untuk mengakomodasi badan khas beruang kutub ini agar lebih nyaman..hehehe.

Bagaimana dengan motornya sendiri..apakah ada masalah..?

Waduh..nyaris tidak ada. Masalah yang paling signifikan dan annoying adalah tutup tangki yang sulit dibuka karena putaran kuncinya seret, eh..kunci ikut patah pula. Tamabahan lagi, karet pengganjal single seater hilang..dan sekarang terpaksa digantikan oleh karet ban dalam.

Lantas, di usia 15.000 km, apa saja spareparts yang sudah diganti? Seperti yang pernah ane tuliskan bahwa sebelum mengikuti touring #XLNetRally ane memeriksa kondisi motor ke bengkel Leo Performa. praktis, hanya kampas dan plat kopling yang ane ganti. Sisanya seperti radiator coolant dan oli memang sudah saatnya diganti.

Apa saja parts standar Kawasaki yang sudah terlihat dimakan usia? Nah..ini dia:

  • Rantai – rantai Ninja 250 kerap timbul bintik karat, terutama sehabis cimot. solusinya harus telaten menyikat dengan chain wax dan gemuk.
  • Bodyworks – bagian tangki sudah ada beberapa goresan yang disinyalir akibat adanya pasir yang menempel pada magnet tank bag.
  • Body belakang – di sini, cover single seater sering bergesekan dengan body belakang sehingga menimbulkan gores. solusinya ya..tutup pakai sticker aja deh.
  • Lampu utama dekat – nah, kalau ini lampu mati setelah motor dipaketkan oleh JNE..! *geram*
Lalu, adakah rencana modifikasi atau optimasi Ninja 250..? Ada pastinya. Pemasangan part modifikasi seperti spakbor kolong Yamaha Byson dan tatakan plat nopol yang lebar belum sempat ane laksanakan. Untuk tahap lanjut..pemasangan velg lebar masih ane pikirkan.
Disimpan atau dijual lagi..? Ninja 250 ane prediksikan akan bernasib sama seperti saudara 2-taknya. Menjadi legenda bahkan setelah lebih dari 5 tahun masa penjualan. Motor lain yang bernasib sama adalah Honda NSR 150SP dan Suzuki FXR 150 yang sampai sekarang pun tetap ada unitnya yang mulussss berkeliaran menggoda mata para motorcycle enthusiast. Jadi pada dasarnya ane ingin tetap menyimpan sang Ninja agar anak cucu ane dapat melihat kesaktian sang motor pada masanya.







%d blogger menyukai ini: