[Review+Tips] Upgrade Signifikan di Kawasaki Ninja 250Fi

3 08 2012

Well..kehadiran si mini ZX-10R memang bikin galau, lha ane saja yang tiap hari pakai masih ikut galau.. :mrgreen: . Bagaimana tidak, Sang Ninja memperoleh upgrade dan revisi signifikan di tiap partsnya. Adanya perbaikan-perbaikan tersebut sangat terasa lho.. Nah, sebagai owner Ninja 250 jadoel, ane mencoba menguak sedikit beberapa perbaikan yang sangat signifikan yang membuat motor berharga Rp 49.9juta (non-ABS) dan Rp 56 juta (ABS) ini semakin valuable Baca entri selengkapnya »





Gallery Foto New Kawasaki Ninja 250 Fi

2 08 2012

Serangan umum 1 Agustus ini benar-benar gebrakan yang membuat kaget semua bike enthusiast. Kawasaki langsung membuat ranah dunia roda dua berpikir bahwa strategi “spy shoot”, sebar rumor sana-sini dan apalah itu namanya menjadi basi alias “so yesterday”.

Julukan totally new bike layak disematkan pada New Ninja 250 ini. Pembenahan tampak terjadi di berbagai bagian. Beberapa diantaranya tampak pada bagian vital sang Ninja.

Yang dominan pastilah sistem pengabutan bahan bakar yang menganut injeksi seperti pada ER-6, ditambah lagi aplikasi digital speedometer, menggantikan speedometer analog yang sudah lawas. Indikator yang ada tampak futuristik, termasuk blinker lampu sein yang sudah terpisah kiri-kanan

Sektor body mendapat refreshment yang radikal.. Lampu sein depan menyatu dengan body, windshield diganti dengan model terpisah dari body. Sekilas bodyworks mengingatkan kita pada ZX-6R.

Sektor mesin parallel twin dikabarkan mengalami upgrade pada material silinder. Dan bentuk header mengalami perubahan bentuk lengkungan. Tak lupa sensor O2 tertanam di bagian bawah header.

Lampu depan mengalami perubahan total menjadi dual type, demikian juga pada lampu belakang.

Untuk tipe ABS, tersematkan pula sensor dan grid khas ABS pada piringan cakram depan dan belakang

Sementara itu pada sektor chassis tampaknya tidak mendapat perubahan yang berarti. Hal ini mengindikasikan bahwa body kit Ninja 250 Fi ini dapat dipasangkan pada Ninja 250 lawas.. *ngincer mode on* :mrgreen:

Kawasaki seolah menitipkan pesan pada kompetitornya bahwa jangan laaah ente setengah-setengah menyisipkan teknologi jika hendak bermain pada segmen motor kelas 250cc..

Disinyalir inilah hasil riset Kawasaki yang juga melibatkan beberapa anggota klub dan komunitas Ninja di Indonesia. Buka sedikit rahasia deeh..Ane pun termasuk yang sempat diwawancarai di markas besar Kawasaki di Pulogadung mengenai bagaimana seharusnya bentuk dan spek Ninja anyar..langsung oleh tim R&D dari Jepang. Pada kegiatan ini tim R&D mengambil referensi dari berbagai sportbike kelas atas untuk desain bodyworks.

Dan hasilnya..awesome..gak pakai strategi murahan spyshot teralis-teralisan dan sebar gosip sana-sini ala pabrikan kelas bebek. Langsung launching…!!

Silakan nikmati foto-foto sang Ninja 250 Fi yang montok, sexy dan menggoda ini..membangkitkan syahwat duniawi para bike enthusiast…Hadooh mufflernya itu loooh.. 👿

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.





Ninja 250 FI-ABS Meluncur, Pemilik Lama Dapat Paket Upgrade Gak?

31 07 2012

“WOW effect” 250 cc parallel twin engine di Indonesia memang lebih besar ketimbang mesin konvensional berinjeksi yang telah lebih dulu diadopsi oleh Yamaha Vixion. Inilah kunci keberhasilan Kawasaki sebagai first mover di kelas 250 cc. Kini, meskipun Baca entri selengkapnya »





Pilih Motor..Tenaga Badak tapi Boros, atau Computerized tapi Irit..?

23 05 2011
pilih irit BBM atau tenaga bengis..?

pilih irit BBM atau tenaga bengis..?

Pertanyaan di atas pas betul untuk menggambarkan trend dunia otomotif khususnya sepeda motor.

Jika bro n sist sempat mengubek-ubek informasi seputar spesifikasi mesin motor di era tahun 80 hingga 90-an, dan membandingkannya dengan spesifikasi motor yang beredar belakangan ini, maka akan dapat ditarik benang merahnya.

Pada era 80 hingga 90-an, menurut ane adalah puncak kejayaan permesinan motor. Pada saat itu begitu banyak beredar motor dengan mesin bertenaga bengis, namun cukup sederhana mekanismenya,tidak melibatkan banyak sensor dan indikator. Beberapa contohnya seperti Suzuki Bandit series, Honda CB series dan juga GSX series. Pada era tersebut motor dengan cc besar aka “muscle bike” terbilang lumrah.

Sebagai kompensasi atas torsi dan power maha besar itu maka konsumsi BBM ikut besar. Namun boros adalah hal yang lumrah mengingat isu kelangkaan BBM dan menipisnya cadangan minyak bumi belum menjadi perhatian.

Sementara itu memasuki era 90-an teknologi motor berkembang juga, demikian pula dengan berbagai isu lingkungan. Oleh karenanya kendaraan berkubikasi mesin besar dinilai tak lagi relevan karena boros. Timbullah berbagai teknologi untuk lebih “mengoptimalkan” pemakaian BBM, dari mulai ECU, injeksi, pengurangan jumlah ruang bakar alias kubikasi..pokoknya semua menjadi lebih ringkas dan lebih kecil. Alasannya..efisiensi.

Yah..isu ini memang dahsyat..dan terasa kok dampaknya. Ane masih ingat ketika riding harian naik motor di pertengahan 2006. Jalanan Jakarta kala itu tidak semacet sekarang pada jam sibuk.

Dunia motor di Indonesia pun seakan berubah. Efisiensi BBM mendadak jadi hal penting. Kubikasi mesin motor pun terpangkas. Masih segar di ingatan kita bagaimana ketika Suzuki FXR150 dan Thunder GSX250 mampu menyajikan performa mesin yang seolah mendahului masanya. Belum lagi Honda NSR dan Yamaha TZM yang tidak peduli kata boros..yang penting tenaga “nendang”..!

Nah, 1 dekade setelah tahun 2000, kerinduan akan torsi yang meledak dan power melimpah mulai banyak yang merindukan. Motor rondo keluaran tahun 90an makin diminati. Ini terlihat dari beberapa kawan “pedagang” yang memberikan informasi bahwa moge-moge seken tahun 90an banyak yang beli.

Simple, mudah perawatan dan bertenaga adalah alasan utamanya. Seorang kawan pun mengakui sambil bercanda “jaman sekarang kota makin padat sob, jadi motor dikecilin.jangan harap bisa melenggang naik moge kaya taon 90an” begitu katanya.

Memang benar sih, di era sekarang ini banyak pecinta motor muscle yang harus menyerah pada padatnya jalanan kota. Yang dulu bisa melenggang harian riding nikmat pakai motor ber-cc besar sekarang harus turun kasta naik bebek atau matic karena alasan klasik.. “Macet bo”

Dari sudut pandang ane, di ranah motor perbatasan alias 250 cc, setelah Thunder 250 yang kurang sukses di pasaran ini, Kawasaki terbilang berani membangkitkan trend muscle bike ini dengan Ninja 250 nya.

Ane baru sadar tentunya setelah CBR 250 keluar. Betapa sederhananya mesin inline twin dan komponen kelistrikan Ninja 250 dibanding pesaingnya si CBR 250. Meskipun torsi awal dimenangi oleh CBR250 namun overall, secara subjektif ane tetap vote untuk Ninja 250 tak lain karena motor ini seolah merupakan fosil muscle bike era 90an yang diberi wajah baru.

Berbeda dengan CBR 250 yang menurut ane teknologinya lebih maju namun secara umum “less powerful” dibanding Ninja 250.

Tapi..ini hanyalah ulasan singkat seorang perindu motor bertenaga saja. Dengan adanya CBR 250 dan Ninja 250, juga dengan adanya 250 cc keluaran pabrikan lain. Konsumen jadi mendapat pilihan.

Mau yang berbadan besar, bengis, bertenaga badak tapi boros…

atau

Mau yang irit BBM, full sensor, computerized tapi less powerfull

Pilih mana..?





Perbedaan Pulsar 220 DTS-Fi (Injeksi) vs DTS-i (Karburator)

22 03 2011

Berdasarkan video di atas, sebuah review dari Kartikeya Singhee, ane dapatkan informasi bahwa terdapat banyak perbedaan antara Pulsar 220 DTS-Fi (injeksi) dengan Pulsar 220 DTS-i (karburator), tak hanya dari video di atas, informasi lain seputar perbedaan gear ratio antara keduanya ane dapatkan dari bro Satadal Payeng..Thanks a lot bro..!

Apa saja perbedaannya? Ini dia.. Baca entri selengkapnya »





Honda PCX 125 Menggebrak Segmen Premium Matic, Ente Berminat?

18 06 2010

Dengan spesifikasi singkat seperti di bawah ini:

sumber: powersports.honda.com

Fitur unggulannya adalah:

  • Combi Brake System (CBS), seperti pada Honda Vario CBS Techno
  • PGM-Fi, sudah aplikasi injeksi nih
  • Bagasi 32 liter di bawah jok, wow..serasa membawa box
  • Front box, lumayan buat taruh minuman, hp atau sarung tangan
  • Ukuran body bongsor, hampir sebesar Piaggio X9

Nah, sekarang lihat harganya.. Rp 32.000.000,- (tigapuluh dua juta rupiah) 😀 on the road..di segmen harga 30 jutaan ini, di Indonesia PCX 125 akan beradu dengan motor-motor berikut:

  • Kawasaki Ninja 150RR – Rp 31.500.000,-                 (sport)
  • Minerva Megelli 250 RV – Rp 34.500.000,-             (sport)
  • Honda CBR 150R – Rp 32.000.000,-                            (sport)
  • Kaisar Ruby 250 – Rp 26.000.000,-                             (cruiser)

Ninja 250R

Minerva Megelli 250

Kaisar Ruby 250

Honda CBR150R

Direct rival si big-matic ini di kelas skuter/matic adalah Piaggio Fly 150cc dengan harga Rp 30.000.000,- dan Benson Like Rp 23.950.000,-

Piaggio Fly 150

Benson Like

Dan bisa jadi akan menggerogoti pasaran Kawasaki Ninja 250R yang berharga Rp 46.500.000,-.

Itu dari pandangan marketing. Rupanya Honda sudah mau memperhatikan segmen premium dan tidak melulu keasyikan jualan motor bebek.

Sekarang pandangan ane sebagai calon konsumen…yuk menerawang ke depan.. 🙂

Fitur unggulan yang ane sukai adalah body yang bongsor, CBS dan bagasi yang luas. Motor matic ini cocok buat kaum PSK (Pria Seratus Kilo) penggemar matic yang sudah lelah dijuluki “beruang sirkus”..(well ane juga bernasib sama bung.. :D).

Beruang Sirkus

Fitur lainnya yang baru juga alarm anti maling dan kaliper depan yang memiliki 3 piston, baru kali ini ane menyaksikan matic dengan rem seperti itu..pastinya braking force akan lebih besar, semoga saja tidak menyebabkan motor skid, alias slip.

Fitur Honda PCX 125

Kalau masalah pilih-memilih, PCX 125 bakal menjadi pilihan lain di segmen motor 30 jutaan dan matic segmented yang selama ini identik dengan skuter buatan Piaggio. Jika selama ini pasaran motor di ranah harga tersebut identik dengan motor-motor cruiser atau sport.

PCX 125 dengan segala fitur unggulannya menurut ane masih terlalu mahal. Seperti biasa pemeo akan berkata “jenis motor apapun kalau diberi merk Honda, pasti harganya jadi mahal”..hehehe..urusan harga memang sensitif meskipun Honda sudah total mengeluarkan motor yang benar-benar fresh.

Dari aspek penggunaan, PCX sudah pasti akan menyedot perhatian saat ente mengendarainya, dan juga akan menyedot tenaga saat ente memarkirkannya di parkiran motor, seperti posting bro Saranto mengenai parkir motor. Itulah konsekuensi yang akan ditanggung menunggangi big-matic.

cornering dengan PCX 125

Dengan fitur ACG Starter yang akan mematikan mesin motor setelah 3 detik idle (misalnya di lampu merah) maka efisiensi bahan bakar akan meningkat, terlebih untuk menyalakannya lagi  hanya perlu putar gas saja.  Tapi tunggu dulu, dari segi safety, menarik gas setelah  mesin mati ini berpotensi bahaya jika diputar berlebih..perlu dijadikan perhatian nih. Artikel lengkap mengenai ACG Starter bisa dibaca di sini.

Aspek lainnya adalah perawatan, dengan sparepart Honda yang relatif mahal, harus dipertimbangkan juga biaya maintenance PCX nantinya.

Jadi, beli gak nih..?

Well, itu tergantung ente, ane sudah kasih masukan plus-minusnya. Kalau ente tergolong daily bikers yang rutenya sering kena macet maka memakai PCX tiap hari sudah pasti kurang nyaman karena manuver-ability-nya kurang plus fitur auto engine stop nya yang berpotensi mengganggu. Tapi jika ente termasuk bike-enthusiast yang berencana memakai PCX hanya sesekali pada waktu senggang dan kondisi jalan tidak macet, maka PCX 125 bisa jadi must have matic nih..!

Selamat memutuskan!








%d blogger menyukai ini: