Bersepeda, Wujud Kemapanan Berpikir yang TERLECEHKAN

18 06 2010

Miris sekali membaca berita dari milis RSA bahwa salah seorang pengendara sepeda bernama bro Adi Nagara (27 tahun) yang biasa dipanggil Aga, tewas akibat kepalanya membentur mobil boks. Berita lanjutan yang ane baca adalah Aga tewas saat bersepeda bersama kawan-kawannya dari Rocketers dan terhantam spion truk dari arah berlawanan. Selanjutnya kepalanya kembali menghantam bodi truk. Ajal pun menjemput bro Aga di dalam perjalanan ke RS. Eka Hospital.

Kecelakaan ini menambah daftar pengendara sepeda yang celaka akibat ulah pengguna jalan lain di jalan. Dan sebagai bentuk solidaritas antar pesepeda, malam ini di Taman Ayodya di daerah Jakarta Selatan akan diresmikan patung “Ghost Bike” sebuah patung berwujud pesepeda dan sepedanya dengan dilabur warna putih. pada bagian dari patung ini akan ditorehkan nama-nama pesepeda yang tewas karena kecelakaan lalu-lintas.

Dari informasi yang ane peroleh, patung ini dibuat sebagai Monumen Peringatan..ya..ane tegaskan lagi..Monumen Peringatan..yang berguna untuk mengingatkan para pengguna jalan bahwa jalanan bukan tempat yang ramah.

Menilik keberadaan sepeda di kota besar seperti Jakarta tidaklah sulit, tengoklah di pagi hari ketika belum banyak kendaraan bermotor lalu-lalang, para pesepeda sudah menghiasi jalanan. Mereka menikmati jalan selagi lengang.

Menurut ane, bersepeda di saat sekarang ini menunjukkan kemapanan berpikir penggunanya. Pemikiran mereka tidak egosentris, tidak individualis dan mau berpikir kolektif, dalam artian berpikir sebagai bagian kelompok masyarakat.

Dengan bersepeda berarti seseorang sadar bahwa di tengah budaya konsumtif pemakaian kendaraan bermotor sekarang ini, mereka harus berani tampil beda, mereka haus akan aktualisasi diri dan ogah menjadi follower. Motivasi pesepeda erat dengan rasa sayang kepada lingkungan yang dihuni masyarakat yang kian konsumtif dan individualis ini.

Bersepeda menunjukkan tingkat berpikir yang lebih mapan, lebih tinggi, karena tidak hanya menginginkan kecepatan dan kenyamanan yang dapat diperoleh dengan membeli sebuah mobil atau mungkin motor bebek. Bersepeda berarti menebas habis bibit individualisme yang mengabaikan kelestarian lingkungan dan ekosistem transportasi massal.

Pesepeda adalah makhluk langka yang seharusnya dihargai karena pemikiran mereka yang lebih mapan, yang mampu menampar pengguna jalan lain yang pikirannya baru sebatas mencari moda transportasi pribadi yang paling nyaman dan murah bagi mereka, tanpa mau peduli berapa besar emisi kendaraan mereka, tanpa mau berpikir panjang apa akibatnya jika jutaan orang berpikir sama dengan mereka.

Kemacetan adalah hasil dari pola pikir individualis, pola pikir egosentris yang hanya memikirkan kenyamanan pribadi yang terbangun di dalam kabin ber-AC ataupun kecepatan dan manuverabilitas yang ditawarkan sebuah motor. Dampaknya ibarat efek domino. antara lain Kecelakaan dan Pelanggaran Lalu-lintas yang siap menelan korban.

Produsen kendaraan tak tinggal diam, di tengah carut-marutnya transportasi perkotaan, mereka dengan sigap tan tangkas menawarkan alternatif solusi transportasi yang murah, contohnya motor bebek. Dampaknya fantastis..jutaan orang membelinya. Dengan dalih ekonomi sulit dan berbagai kemudahan, moda transportasi ini menjadi pilihan favorit.

Jelas ditebak, bahwa MAYORITAS populasi jalan adalah sebuah fungsi dari variabel-variabel individu yang bermental SAMA, dengan kata lain..PASARAN. Mereka cenderung mengikuti arus, mereka tak mau kalah dan ingin seperti yang lain, ditambah lagi dengan taraf pendidikan mayoritas mereka yang dapat ditebak di bawah rata-rata, aktualisasi diri hampir terlupakan dan hanya terkadang terwujud dengan modifikasi ‘alay’ yang cenderung merugikan pengguna jalan lain misalnya mengganti kenalpot dengan yang bising, mengganti lampu kendaraan dengan yang lebih terang, hingga hasrat untuk memamerkan cara berkendara ala “pembalap wannabe” di jalanan. sementara aparat penegak hukum sudah terlalu malas bertindak untuk menertibkan berbagai pelanggaran.

Yang tidak biasa menjadi kebiasaan..

Yang benar menjadi kesalahan..

ini jelas layak disebut PEMBODOHAN OTOMOTIF!

Sangat Dangkal..

Selain terbersit di benak orang yang berpikir lebih mapan, frase ini juga sering ane dengar dari kawan pemakai kendaraan pribadi yang juga berasal dari ekonomi mapan, ketika ia melihat para pesepeda. Dari sudut pandangnya, pesepeda itu aneh.. Rela bersusah payah mengayuh sekian kilometer ditemani asap tebal polusi. Argumentasi tajam ane pun hanya menghasilkan cibiran ala sinetron.. 😦

Memang, fakta berbicara bahwa orang yang tampil beda adalah orang aneh..Celakanya anggapan aneh tidak disertai dengan benchmark yang memadai. Jika seorang berkata aneh, dia akan fokus kepada para pesepeda, para pecinta musik progressive rock, para pehobi koleksi barang aneh, para seniman dan figur-figur lain yang tidak sesuai dengan mainstream yang sedang IN. Kebanggaan menjadi pribadi yang tampil beda secara positif dan out of the box pun menjadi barang langka.

Media massa pun tak ketinggalan turut membumbui masyarakat kita agar terus konsumtif dan berlaku sebagaimana layaknya artis sinetron dan infotainment yang cenderung membodohi. Norma dan hukum di masyarakat yang makin merosot akan semakin mendegradasi moral tiap individu.

Ane harapkan kepergian bro Aga dapat menjadi pemicu masyarakat agar dapat lebih mapan berpikir, terutama dalam hal transportasi..dimana bersepeda sering dianggap wujud kemapanan berpikir yang terlecehkan.

INNA LILLAHI WA INNA ILAIHI ROJI’UN…Semoga bro Aga dapat tenang di sisi Allah SWT.

foto: hasil googling








%d blogger menyukai ini: