Media Massa Kehabisan Berita…?? Makhluk Halus Masih Saja Jadi Sensasi

6 10 2011

image

Dapat berita dari bro Igfar bahwa malam ini di salah satu televisi swasta sedang menyiarkan tayangan mengenai sisi mistis di Tol Cipularang. Kembali ane tertawa..kok ya masih ada aja berita macam begini. Tapi.ingat dulu deeh..lhaaaa.. Baca entri selengkapnya »





SIARAN PERS RSA : Pemerintah Tidak Konsisten

21 09 2011

image

Jakarta, 21 September 2011 – Menyikapi kriminalitas di dalam angkutan umum belakangan ini, Road Safety Association (RSA) Indonesia mendesak perwujudan moda transportasi massal yang aman, nyaman, dan terjangkau. Hal itu adalah amanat Undang Undang No 22/2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan (LLAJ).

“Pemerintah tidak konsisten dalam penegakan peraturan lalu lintas dan harus bertanggung jawab” tutur Rio Octaviano, ketua umum RSA, di Jakarta, Rabu (21/9).

Rio menilai, kasus-kasus seperti pemerkosaan terhadap wanita di angkutan umum belakangan. ini, hanya permukaan gunung es. “Substansinya adalah terwujudnya moda angkutan umum yang aman. Kalau tidak terwujud, justru Pemerintah yang memperkosa pengguna angkutan umum” tegasnya.

Karena itu, pembenahan moda transportasi massal tidak bisa ditunda. Penyelenggaraan angkutan umum harus berbasis badan hukum sehingga mudah dikontrol dan dievaluasi. Selain itu, menciptakan iklim pengemudi yang sejahtera dengan sistem penggajian. Bukan sistem setoran. “Di sisi lain, konsistensi penegakan hukum sebagai ajang kontrol terhadap keselamatan angkutan harus terus dijalankan,” tukas Rio.

RSA juga menilai, tanpa sinergi seluruh stakeholder transportasi, perwujudan angkutan umum yang aman, nyaman, dan terjangkau sulit diwujudkan. “Karena itu, sinergi dan konsistensi harus dipraktikan. Buang ego sektoral antar instansi demi keselamatan rakyat banyak,” pungkas Rio. (*)





Siaran Pers RSA – Pencabutan BBM Bersubsidi Untuk Sepeda Motor

1 06 2010

Motor Isi Bensin

RSA: Pemerintah Otoriter

JAKARTA, 28 Mei 2010 – Rencana pemerintah melarang sepeda motor memakai bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi, premium, adalah keputusan sepihak yang merugikan mayoritas masyarakat pengguna sepeda motor. Di tengah kerumitan dan karut-marutnya sarana transportasi massal di daerah perkotaan, yang disebabkan karena tidak layaknya kondisi angkutan umum, kebijakan tersebut mencerminkan sikap otoriter pemerintah yang enggan mencari solusi dan hanya mengambil jalan pintas tercepat yang tidak tepat.

“Kebijakan tersebut mencerminkan pemerintah yang otoriter, seharusnya pemerintah mau menyerap aspirasi dan melibatkan masyarakat sebelum mengeluarkan kebijakan,” tutur Rio Octaviano, ketua Road Safety Association (RSA), di Jakarta, Jumat (28/5).

Sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM Evita Herawati Legowo, Rabu (26/5/2010), mengatakan, “Kita sudah bicara dengan AISI, kelihatannya sepeda motor tidak dapat (BBM bersubsidi).”

Dia juga menuturkan, mekanisme penerapan pembatasan konsumsi BBM bersubsidi akan diputuskan akhir Juni 2010. Rencananya, pembatasan tersebut akan mulai diterapkan pada Agustus 2010

Fakta saat ini, mayoritas transportasi umum massal belum sepenuhnya aman, nyaman, dan terjangkau masyarakat. Buntutnya, masyarakat berinisiatif memilih sepeda motor sebagai sarana mencari nafkah sehari-hari. Padahal di negara-negara maju, sepeda motor adalah kendaraan rekreasi dengan izin berkendara yang proses kepemilikannya tidak mudah.

“Pemerintah tidak bijaksana dengan serta-merta ‘menghukum’ masyarakat yang berinisiatif membeli sepeda motor karena transportasi massal yang tidak layak. Pemerintah harus menyelesaikan pekerjaan rumahnya,” tukas Rio.

Dia menambahkan, saat ini, jika rata-rata pengguna sepeda motor menggunakan BBM premium sebanyak 6 liter per minggu, berarti pengeluarannya mencapai Rp 27.000, namun jika harus beralih ke BBM non subsidi yakni Pertamax, pengeluaran per minggunya menjadi Rp 41.700. “Itu sama dengan terjadi kenaikan biaya bahan bakar sekitar 54,4%,” tegas Rio lagi. Hal itu, tuturnya, akan memberatkan masyarakat bahkan bisa kian memiskinkan masyarakat. Data RSA menyebutkan populasi sepeda motor saat ini sekitar 60 juta unit, sedangkan mobil mencapai sekitar 10 juta unit.

RSA mendesak agar pemerintah fokus mencari solusi pekerjaan rumahnya yang terbengkalai yaitu meningkatkan kualitas transportasi umum massal yang aman, nyaman, dan terjangkau. “Memiliki akses dan biaya yang terjangkau,” papar Rio.

Menurut Rio, perwujudan sistem transportasi yang seperti itu saat ini sudah amat mendesak. “Transportasi yang demikian juga akan berdampak kepada kian menurunnya jumlah korban kecelakaan lalu lintas jalan yang saat ini sudah menelan lebih dari 218 ribu korba jiwa,” tambah Edo Rusyanto, ketua Litbang RSA.

Tentang RSA

RSA adalah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berdiri pada 15 Desember 2007. semula RSA bernama Forum Safety Riding Jakarta (FSRJ) yang beranggotakan lebih dari 70 kelompok sepeda motor di Jakarta.

Aktivitas RSA fokus pada penyebarluasan pentingnya berkendara yang aman, nyaman, dan selamat dengan mengutamakan ketaatan pada aturan, berperilaku santun saat berkendara, dan berketerampilan yang memadai.








%d blogger menyukai ini: