Bumblebee, My Yamaha XJR400

22 02 2010

Yamaha XJR 400 tahun 1999, motor ini resmi ane beli di awal tahun 2008 dan ane beri nama Bumblebee. Kisah cinta kami dimulai sejak ane melihat fotonya di sebuah situs jual beli motor besar. Motor berwarna kuning ini segera memikat ane dan gayung bersambut,  penjual dan pembeli menyepakati harga jual setelah melalui proses negosiasi.

First Encounter With Bumblebee

Apa yang dapat ane ceritakan tentang XJR400 ini? Yang jelas motor ini adalah moge pertama yang ane beli dari hasil jerih payah ane sendiri. Rasanya berbeda dengan memakai moge-moge oom ane. Ya, dulu sewaktu kuliah ane memang badung, didukung dengan oom ane yang hobi motor besar. Waktu itu ane dipercaya untuk membawa Suzuki Bandit 400 VTEC. Alasannya..”biar kamu cepet bisa naik motor”  begitu katanya.

Cukup dulu cerita Banditnya..nanti akan ane ceritakan di artikel lain. Bagi ane mengendari moge dengan mesin inline four seperti ini jelas beda rasanya ketimbang memodifikasi motor batangan standar menjadi “moge wannabe”.

Yang jelas pengalaman pertama mengendarai Bumblebee adalah dari bilangan Cibubur menuju Kelapa Gading. Berhubung Bumblebee adalah motor bodong alias tidak memiliki STNK dan BPKB maka mengendarainya juga membawa sensasi tersendiri apalagi jika berpapasan dengan pak polisi. Untungnya Bumblebee tidak terlalu terlihat seperti moge karena sekilas mirip dengan Suzuki Thunder 250.

Bumblebee di Garasi

Sebelum meminang Bumblebee ane membandingkannya dengan 2 motor lain yang masuk nominasi ane yaitu Honda CB400 Super Four dan Suzuki Bandit 400 VTEC. Paling tidak berikut hasil perbandingan kecil-kecilan yang sempat ane buat. Cukup jelas mengapa akhirnya pilihan ane jatuh pada si Bumblebee.

400cc Bikes Comparison

Kembali mengendarai moge setelah sekian tahun absen membuat ane agak kagok, terlebih pada handling dan torsi besarnya. Satu hal yang “ngangeni” dari moge adalah suara mesinnya. XJR memiliki suara mesin yang kasar pada RPM bawah namun suara raungan khas mogenya baru keluar di 2000 RPM ke atas.

Bumblebee memiliki karakter mesin yang lambat di putaran bawah. Tarikan atau torsi baru akan terasa jika RPM ditarik menuju angka 6000 ke atas. Mesin 4 silinder-DOHC nya akan membuat badan rider tertarik ke belakang akibat inersia. Lebih dari cukup untuk mengejar Harley-Davidson Roadking yang sedang berakselerasi..hehehe, ini ane lakukan saat touring bersama kawan-kawan Miles Biker menuju Ujung Genteng.

Perpindahan transmisi 6 kecepatannya lebih responsif dari Bandit 400. Sayangnya sepanjang ane memiliki Bumblebee hanya 3 kali ane riding hingga gear ke-6. Itupun hanya sampai kecepatan 160 km/jam. Sebenarnya motor masih bisa menambah kecepatan, namun ridernya sudah gemetaran duluan. Ini sering ane lakukan ketika ane sedang iseng di malam hari di jalan boulevard Kelapa Gading.

Berpose di Bayah

Didukung dengan suspensi Ohlins, handling Bumblebee sangat stabil. Gejala stang goyang maupun guncangan mampu direduksi dengan baik. Satu hal yang ane sayangkan dari shokbreaker belakang Ohlins standar pabrikan itu adalah tingginya, yang menyebabkan percabangan leher knalpot di bagian bawah mesin selalu saja terbentur polisi tidur. Hal ini ane akali dengan mengganti shockbreaker belakang tersebut dengan milik Pulsar 180. Hasilnya motor terlihat lebih “nungging” dan benturan dengan polisi tidur tidak lagi terjadi.

Rear Shockbreaker (Before - After)

Perawatan Bumblebee tidak merepotkan, karena tidak memakai radiator dan hanya memakai oil cooler. Oli mesin hanya 2.7 liter dengan spesifikasi 10w40. Sparepart Bumblebee seperti kampas dan plat kopling dapat dikanibal dengan Yamaha Scorpio sementara kampas rem depan dikanibal dengan Bajaj Pulsar, dengan sedikit ekstra menggerinda tentunya.

Oil Cooler, Mempermudah Perawatan

Hal penting selanjutnya adalah penampilan. Yamaha XJR400 memiliki body yang terbesar di kelas moge 400 cc, hal ini dapat dilihat dari tangki yang panjang dan lebar dan body buritan yang lebih montok dari moge 400 cc lainnya namun tetap terlihat tidak jauh seperti Suzuki Thunder 250. Kecuali jika orang melihat blok mesinnya yang lebar pasti akan langsung sadar bahwa yang ia lihat adalah moge.

Beberapa pengalaman seru ane alami bersama Bumblebee, mulai dari touring ke Bandung dan Ujung Genteng serta city riding setiap minggunya. Karena terlihat seperti motor biasa maka kadang Bumblebee digoda motor lain untuk balapan. Jika ane sedang iseng dan ingin “torque show off” maka ane jabanin saja itu orang. Tercatat beberapa motor seperti Yamaha Scorpio, Suzuki Satria FU hingga Kawasaki Ninja 250R pernah ane pecundangi..hehehe..4 silinder kok dilawan, mbok ya liat-liat dulu gitu lho.

Selama memelihara Bumblebee satu-satunya hal yang merepotkan hanyalah ketiadaan STNK dan BPKB. Ane jadi harus sering memantau keberadaan aparat polisi di sekitar ane. Hal inilah yang akhirnya memutuskan ane untuk menjual Bumblebee yang sudah ane ceritakan di artikel sebelumnya.

So overall ane sangat puas pernah memiliki Bumblebee, keinginan memiliki moge di atas 600 cc pun masih ada. Tahun ini ane meminang Kawasaki Ninja 250R yang ane beri nama Ironhide dan tetap berencana untuk meminang sebuah moge lagi, kali ini harus yang resmi dan bersurat lengkap tentunya. Nominasi ane sebagai berikut:

– Kawasaki ER-6F/N

– Kawasaki Versys

– Suzuki GSR 600

Ada masukan moge mana yang terbaik menurut ente?





Goodbye Bumblebee

22 01 2010

Bumblebee Mejeng

Bumblebee Mangkal di Garasi

Bumblebee, itulah nama yang ane berikan pada sebuah motor Yamaha XJR400 keluaran tahun 1999 yang ane beli dari seorang kawan di klub moge. Kala itu film Transformers sedang booming dan juga ane menggemari karakter Bumblebee sebagai pelindung Sam Witwicky dan rupanya Bumblebee sudah terlahir berwarna kuning dengan striping di tangki dan bodi belakang yang dapat dikatakan lucu.

Mungkin memang jodoh sehingga motor tersebut sukses berpindah tangan ke ane dengan harga yang cukup miring.

Namun apa daya, Bumblebee adalah motor tanpa surat resmi. Dengan berbekal hanya selembar STNK fotokopi ane harus terbiasa mengaspal dengannya. Awalnya takut dan harap-harap cemas namun akhirnya biasa juga.
Dengan Bumblebee, ane kembali liar menikmati torsi besar yang dulu sempat ane nikmati ketika pertama kali belajar naik motor dengan Suzuki Bandit 400. Beberapa kegiatan touring dari mulai Ujung Genteng sampai Bandung sempat ane lakukan bersama Bumblebee.

Touring ke Ujung Genteng

Sampai akhirnya sudah setahun lebih ane memelihara Bumblebee, dengan ban yang mulai botak dan konsumsi bensin yang boros, ditambah lagi Bumblebee kadang sulit distarter di pagi hari membuat ane jengkel. Yang paling tidak menyenangkan tentunya karena Bumblebee tidak memiliki surat lengkap alias bodong. Sepertinya tidak ada yang bisa dibanggakan dengan memiliki motor bodong.

Utak-Utik Bumblebee Sendirian

Akhirnya ane putuskan saja untuk menjual Bumblebee dan setelah pasang iklan di website jual-beli moge beberapa kali, Bumblebee menemukan jodohnya kembali, seorang bapak pemain moge yang berdomisili di daerah Tomang yang rupanya juga kawan saudara ane. Jadilah Bumblebee berpindah tangan.

Kibo & Bumblebee

Berapa harga jualnya?

Ane juga tidak menyangka bahwa harga jualnya adalah sama seperti harganya dulu ketika ane membeli Bumblebee..hehehe..rezeki memang gak kemana-mana.

Pengganti Bumblebee? Tunggu saja..yang jelas kali ini ane gak mau lagi beli moge bodong. Hehehe..

My Next Big Bike...?








%d blogger menyukai ini: